Selasa, 23 Mei 2017

Ringkasan Study Islam


RESUME PEMBAHASAN
UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MANDIRI
MATA KULIAH: STUDY ISLAM
DOSEN PENGAMPU: Dr. H. M Tata Taufik, M. Ag.


Disusun oleh:
Irfan Maulana Yusuf
FAKULTAS DAKWAH
MA’HAD ‘ALI AL-IKHLASH
CIAWILOR CIAWIGEBANG KUNINGAN JAWA BARAT
2017



POKOK-POKOK BAHASAN
1.  Prinsip dasar metodologi islam
2.  Manusia dan kebutuhan akan agama
3.  Sumber dan karakteristik islam
4.  Islam sebagai agama, wahyu dan al-quran
5.  Produksi budaya di islam
6.  Pengetahuan ilmiah
7.  Beberapa pendekatan study islam
8.  Metodologi memahami islam





TUGAS RESUME MATA KULIAH STUDY ISLAM
Nama: Irfan Maulana Yusuf
1.    Prinsip Dasar Metodologi Islam
Metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian. Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberi uraian, penjelasan, dan penentuan nilai. Metode biasa digunakan dalam penyelidikan keilmuan. Metodologi adalah ilmu cara- cara dan langkah- langkah yang tepat (untuk menganalisa sesuatu) penjelasan serta menerapkan cara.
Dalam ilmu tentang mengajar, metodologi disebut didaktik yaitu ilmu yang membahas tentang kegiatan proses belajar mengajar yang menimbulkan proses belajar. Didaktik dibedakan menjadi dua, yaitu dikdaktik umum dan didaktik khusus. Didaktik umum membahas prinsip-prinsip umum dalam mengajar dan belajar, sedangkan didaktik khusus yaitu membahas cara-cara guru menyajikan bahan pelajaran kepada pelajar.  
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, metodologi berarti ilmu tentang metode atau uraian tentang metode. Dan dalam bahasa Arab disebut minhaj, wasilah, kaipiyah, dan thoriqoh, semuanya adalah sinonim, namun yang paling populer digunakan dalam dunia pendidikan Islam adalah thoriqoh, bentuk jama’ dari thuruq yang berarti jalan atau cara yang harus ditempuh. Dalam bahasa Inggris, metode di sebut method dan way, keduanya diartikan cara. Sebenarnya yang lebih layak diterjemahkan cara adalah kata way itu, bukan kata method. Karena metode istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian “cara yang paling tepat (efektif) dan cepat (efisien)” dalam melakukan sesuatu. Maka metodologi dalam pengertian ini adalah ilmu tetang metode yaitu ilmu yang mempelajari cara yang paling tepat (efektif) dan cepat (efisien) untuk mencapaian tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Pandangan Islam yang bersifat filosofi terhadap alam jagat, manusia, masyarakat, pengetahuan, dan akhlak, secra jelas tercermin dalam prinsip-prinsip pendidikan Islam. Dalam pembelajaran, pendidik merupakan fasilitator. Ia harus mampu memberdayagunakan aneka ragam sumber belajar. Dalam memimpin proses pembelajaran, pendidik perlu perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam dan senantiasa mempedomaninya, bahkan sejauh mungkin merealisasikannya bersama-sama dengan peserta didik.
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
2.    Manusia dan Kebutuhan Akan Agama
Secara naluri, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan di luar dirinya. Dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan berbagai bencana. Manusia mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha, yang dapat membebaskannya dari keadaan tersebut. Naluriah membuktikan  manusia perlu beragama dan membutuhkan Sang Khaliknya.
Benih agama adalah rasa takut yang kemudian melahirkan pemberian sesajen kepada yang diyakini yang memiliki kekuatan menakutkan. pada masa primitif, kekuatan itu menimbulkan kepercayaan animisme dan dinamisme. Ia memerinci bentuk penghormatan itu berupa Sesajian pada pohon-pohon besar, batu, gunung, sungai-sungai, laut, benda alam, Menjaga dan menghormati kemurkaan yang ditimbulkan akibat ulah manusia, misalnya upacara persembahan, ruatan, dan mengorbankan sesuatu yang dianggap berharga.
Agama muncul dari rasa penyesalan seseorang. Namun bukan berarti benih agama kemudian menjadi satu-satunya alasan bahwa manusia membutuhkan agama. Karena kebutuhan manusia terhadap agama dapat disebabkan karena masalah prinsip dasar kebutuhan manusia. Untuk menjelaskan perlunya manusia terhadap agama sebagai kebutuhan. Terdapat dua faktor yang menyebabkan manusia memerlukan agama. Yaitu:
·      Faktor Kondisi Manusia
Kondisi manusia terdiri dari beberapa unsur, yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan kedua unsur tersebut harus mendapat perhatian khusus yang seimbang. Unsur jasmani membutuhkan pemenuhan yang bersifat fisik jasmaniah. Kebutuhan tersebut adalah makan-minum, bekerja, istirahat yang seimbang, berolahraga, dan segala aktivitas jasmani yang dibutuhkan. Unsur rohani membutuhkan pemenuhan yang bersifat psikis (mental) rohaniah. Kebutuhan tersebut adalah pendidikan agama, budi pekerti, kepuasan, kasih sayang, dan segala aktivitas rohani yang seimbang.
·      Faktor Status Manusia
Status manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Apabila dibanding dengan makhluk lain, Allah menciptakan manusia lengkap dengan berbagai kesempurnaan, yaitu kesempurnaan akal dan pikiran, kemuliaan, dan berbagai kelebihan lainnya. Dalam segi rohaniah manusia memiliki aspek rohaniah yang kompleks. Manusia adalah satu-satunya yang mempunyai akal dan manusia pulalah yang mempunyai kata hati. Sehingga dengan kelengkapan itu Allah menempatkan mereka pada permukaan yang paling atas dalam garis horizontal sesama makhluk. Dengan akalnya manusia mengakui adanya Allah. Dengan hati nuraninya manusia menyadari dirinya tidak terlepas dari pengawasan dan ketentuan Allah. Dan dengan agamalah manusia belajar mengenal Tuhan dan agama juga mengajarkan cara berkomunikasi dengan sesamanya, dengan kehidupannya, dan lingkungannya.
3.    Sumber Dan Karakteristik Islam
Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW. Sumber ajarannya berasal dari wahyu yang datang dari Allah SWT. Bukan berasal dari manusia dan bukan pula berasal dari nabi Muhammad SAW. Di kalangan ulama’ terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama (primer) adalah Al qur’an dan sunnah sebagai sumber ajaran kedua. Selain itu juga digunakan ro’yu atau akal pikiran untuk memahami Alqur’an dan Sunnah. Sumber ajaran islam ada 3:
1.    Al-quran
Alqur’an merupakan sumber ajaran Islam pertama dan utama dalam Islam. Alqur’an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah, turunnya secara bertahap melalui malaikat, pembawanya adalah Nabi Muhammad SAW, susunanny dimulai dari surat al fatihah bdan diakhiri surat an nass, bagi yang membacanya bernilai ibadah, fungsinya sebagai hujjah atau bukti yang kuat atas kerosulan Nabi Muhammad SAW, keberadaannya hingga kini masih terpelihara dengan baik dan pemasyarakatannya dilaksanakan secara berantai dari satu generasi ke generasi lainnya dengan tulisan dan lisan. Tujuan diturunkan Alqur;an untuk menjadi pedoman bagi umat manusia dalam hidup. sehingga mencapai kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
2.    Sunnah
Sunnah adalah segala yang dinukilkan nabi SAW baik perkataan, perbuatan maupun taqrir. Kedudukan as-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam selain didasarkan pada keterangan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits juga didasarkan pada kesepakatan para sahabat. Keberadaan as-Sunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya sebagian dari ayat al-Qur’an yaitu:
·      Ayat yang bersifat global yang memerlukan perincian, maka Hadits berfungsi untuk merinci petunjuk dan isyarat al-Qur’an yang global tersebut.
·      Ayat besifat menyeluruh (umum) yang menghedaki pengecualian, maka hadis berfungsi sebagai pengecualian terhadap isyarat Al-quran yang bersifat umum.
·      Ayat bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan, maka hadist berfungsi sebagai pembatas.
3.    Ro’yu
Ro’yu atau akal pikiran merupakan sumber ajaran Islam yang ketiga setelah al-Qur’an dan Hadits. Ro’yu disebut sebagai sumber sekunder atau instrumental karena merupakan sarana atau alat untuk memahami ajaran dasar. Ro’yu digunakan untuk ijtihad yaitu melakukan kesungguhan dan ketekunan optimal untuk menetapkan hukum Syara’. Jadi, ijtihad dilakukan untuk menetapkan hukum yang tidak dipenuhi dalam al-Qur’an dan Hadits.
4.    Islam Sebagai Agama, Wahyu dan Al-quran
Islam datang untuk meluruskan agama-agama sebelumnya yang telah diselewengkan oleh pengikutnya. Dibekali al-Qur’an sebagai kitab suci yang mana otentitasnya sebagai wahyu Allah tidak diragukan lagi. Bahkan Allah menantang kaumnya untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an jika mereka ragu bahwa al-Qur’an bukan wahyu akan tetapi manusia tidak sanggup membuatnya yang kekhasan dan keunikannnya sama dengan al-Qur’an. Sebagai kalam Allah, teks dijadikan internalisasi kalam, sehingga perlu menggunakan cara-cara yang sesuai dalam memahami teks sebagai pendekatan. Islam mempunyai cara sendiri untuk memahami kitab sucinya, yaitu dengan penafsiran. Dalam metode tafsir, tidak hanya dilihat secara parsial saja (hanya melihat teks), akan tetapi latar yang melingkupi dan menimbulkan teks (Asbabun nuzul) tersebut juga menjadi pertimbangan dalam penafsiran, sehingga darinya dapat diambil makna tersirat (spirit) dari teks secara dhahir.
Sebagai wahyu, al-Qur’an bukan pikiran dan ciptaan Nabi Muhammad SAW. Perdebatan sekitar otentitas al-Qur’an sebagai firman Allah (wahyu) telah terjadi semenjak al-Qur’an diturunkan. Akan tetapi manusia tidak akan mampu menyusun satu ayatpun sebagaimana al-Qur’an, baik segi susunan dan keindahan bahasanya juga maknanya lebih-lebih kepastian dan kebenaran akan isinya yang berlaku mutlak dan tidak bisa dipungkiri.
5.    Produksi Budaya Islam
Kata “Islam” dalam berbagai kajian ilmiah, terutama sejarah bisa diartikan ke dalam tiga kategori ; agama, negara, dan kultur. Islam sebagai fenomena agama mengacu pada sistem kepercayaan dan amalan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Diwahyukan dalam Al-Quran dan Sunnah. Islam sebagai negara adalah kesatuan dan kesepakatan politik yang dibangun berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, serta konsepsi yang berkembang di suatu masyarakat Islam yang menjelma dalam bentuk pemerintahan seperti kekhilafahan, kesultanan, daulat-daulat, dan keamiran.
Dari ketiga kategori di atas jelas bahwa Islam tidak menafikkan sosial-budaya sebagai pendekatan penyebarannya. Namun terdapat perbedaan pendapat mengenai islam bila dikatakan sebagai produk budaya. Pendapat pertama, tidak setuju dengan pandangan bahwa agama itu kebudayaan adalah pemikiran bahwa agama itu bukan berasal dari manusia, tetapi datang dari Tuhan, dan sesuatu yang datang dari Tuhan tentu tidak dapat disebut kebudayaan. Kemudian, sementara orang yang menyatakan bahwa agama adalah  kebudayaan, karena praktik agama tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan.
  Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang (pola hidup menyeluruh), dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.  Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk di dalamnya;
1. Sistem agama
2. Politik
3. Adat istiadat
4. Bahasa
5. Perkakas (pakaian, bangunan)
6. Seni
Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Budaya memiliki pandangan keistimewaan tersendiri. Budaya menjadi pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis.Budaya erat kaitannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri.
6.    Pengatahuan Ilmiah
Ilmu pengetahuan dari aspek pragmatis terbagi kepada dua. Pertama  ilmu kealaman seperti: Fisika, Kimia, Biologi yang bertujuan mensari hukum-hukum alam atau mensari keteraturan-keteraturan yang terjadi pada alam. Kedua ilmu budaya yang mempunyai sifat tidak berulang. Di antara kedua ilmu itu terdapat pula ilmu sosial yang mencoba memahami gejala-gejala yang tidak berulang tetapi dengan sara memahami keterangannya. Sedangkan ilmu pengetahuan manusia berdasarkan kepada klasifikasi ilmu menurut objek ilmu pengetahuan terbagi pada tiga bagian. Yaitu; Ilmu-ilmu Alam, Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora.
Dalam sejarah ilmu pengetahuan, filsafat adalah pengetahuan yang pertama lahir. Filsafat inilah yang pertama kali mempersoalkan tentang alam. Sehingga para ahli filsafat pada waktu itu disebut  filosof alam. Seperti: Anaximandros, Anaximenes, Thales. Dari perkembangan filsafat muncul lah disiplin ilmu lainnya yang relative mandiri dan bidang tertentu. Seperti ilmu kealaman yang merupakan disiplin ilmu yang pertama sekali muncul dari perkembangan filsafat.
Ilmu kealaman yang disebut juga dengan “Natural Scienses” adalah ilmu yang mempelajari tentang susunan benda-benda serta perkembangannya. Ilmu-ilmu kealaman disebut juga ilmu-ilmu eksakta (ilmu pasti)yang kebenarannya pasti, walaupun dalam kenyataan sosiologisnya bersifat kebenaran probabilistis. Yaitu sebuah teori keilmuan yang saat ini dianggap benar, namun besar kemungkinan pada saat yang  lain terori tersebut akan di tumbangkan oleh teori yang datang belakangan.
7.    Pendekatan Studi Islam
Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Sedangkan metode dipahami lebih sempit dari pendekatan. Metode memiliki arti cara atau jalan yang dipilih dalam upaya memahami sesuatu. Dalam hal ini, memahami ajaran agama yang bersumber dari Alquran dan Hadist.
Berikut akan dijelaskan beberapa pendekatan studi Islam:
·      Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan lainnya. Pendekatan normatif dapat diartikan studi Islam yang memandang masalah dari sudut legal formal atau dari segi normatifnya. Dengan kata lain, pendekatan normatif lebih melihat studi Islam dari apa yang tertera dalam teks Alquran dan Hadits. Melalui pendekatan teologis normatif ini, seseorang memiliki sikap militansi dalam beragama, yakni berpegang teguh kepada yang diyakininya. Namun pendekatan ini biasa berkaitan dengan tauhid dan ushuluddin semata.
·      Pendekatan Antropologis.
Dalam konteksnya sebagai metodologi, Antropologi merupakan ilmu tentang masyarakat dengan bertitik tolak dari unsur-unsur tradisional, mengenai aneka warna, bahasa-bahasa dan sejarah perkembangannya serta persebarannya, dan mengenai dasar-dasar kebudayaan manusia dalam masyarakat. Memahami Islam secara antropologis memiliki makna memahami Islam dengan mengungkap tentang asal-usul manusia.
Berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongan miskin pada umumnya, lebih tertarik, kepada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
Melalui pendekatan antropologis di atas, kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika kita ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya.
·      Pendekatan Antropologis
Pada prinsipnya, Sosiologi merupakan sebuah kajian ilmu yang berkaitan dengan aspek hubungan sosial manusia antara yang satu dengan yang lain, atau antara kelompok yang satu dengan yang lain. Pendekatan Sosiologi merupakan sebuah pendekatan dalam memahami Islam dari kerangka ilmu sosial, atau yang berkaitan dengan aspek hubungan sosial manusia antara yang satu dengan yang lain, atau antara kelompok yang satu dengan yang lain.
·      Pendekatan Filosofis
filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah. Sebagai contoh, kita jumpai berbagai merek pulpen dengan kualitas dan harganya yang berlain-lainan namun inti semua pulpen itu adalah sebagai  alat tulis. Ketika disebut alat tulis, maka tercakuplah semua nama dan jenis pulpen.
Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara saksama. Tujuannya antara lain agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Dengan mengerjakan puasa misalnya agar seseorang dapat merasakan lapar yang selanjutnya menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba kekurangan.
·      Pendekatan Historis
Pendekatan historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.
·      Pendekatan Psikologis
Psikologi mempelajari tentang jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamati. Dalam konteks studi agama, pendekatan Psikologis diartikan sebagai penerapan metode-metode dan data psikologis ke dalam studi tentang keyakianan dan pemahaman keagamaan untuk menjelaskan gejala atau sikap keagamaan seseorang, atau dengan kata lain, pendekatan psikologis merupakan pendekatan keagamaan dengan menggunakan paradigma dan teori-teori psikologis dalan memahami agama dan sikap keagamaan seseorang.
Salah satu cara yang dapat diterapkan dalam pendekatan ini adalah dengan cara mempelajari jiwa seseorang melalui perilaku yang tampak yang mungkin saja dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Dalam hal ini, pendekatan psikologis tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama atau keyakinan yang dianut seseorang, melainkan dengan mementingkan bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya.

8.    Metodologi Memahami Islam
Istilah dari metodologi berasal dari bahasa yunani, yakni methodos dan logos. Methodos berarti cara, kiat, dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu. Sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala, dan wawasan.
Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberi uraian, penjelasan, dan penentuan nilai. Metode biasa digunakan dalam penyelidikan keilmuan. Metode adalah suatu ilmu yang memberi pengajaran tentang sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan. Metode juga dapat diartikan sebagai cabang logika yang merumuskan dan menganalisis prinsip-prinsip yang tercakup dalam menarik kesimpulan logis untuk membuat konsep.
Metode dalam memahami Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Dalam hubungan ini, jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandang saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Alqur’an sendiri. Kitab ini memiliki banyak dimensi, sebagiannya telah dipelajari oleh sarjana-sarjana besar sepanjang sejarah.
Adapun metode lain untuk memahami Islam adalah metode tipologi. Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topic dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Dalam hal agama Islam, juga agama-agama lain, yaitu:
·         Aspek ketuhanan
·         Aspek kenabian
·         Aspek kitab suci
·         Aspek keadaan waktu munculnya nabi, orang-orang yang di dakwahinya, dan individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.  
Ada juga yang memahami islam secara menyeluruh. Cara tersebut digunakan untuk memahami Islam paling besar agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap saling menghormati terhadap pemeluk agam lain. Metode tersebut juga di tempuh dalam rangka menghindari kesalahfahaman yang menimbulkan sikap dan pola hidup beragama yang salah.
Untuk memahami Islam dengan metode tersebut, terdapat empat cara:
1. Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alqur’an dan sunnah Rasul.
2. Islam harus dipelajari secara integral atau secara keseluruhan.
3. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zu’ama, dan sarjana Islam.
4. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis dalam Alqur’an kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosologis.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa: 
– Metode adalah suatu ilmu yang memberi penjelasan tentang sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan.
– Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan.
Metodologi dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam
– Ada beberapa metode dalam memahami Islam, diantaranya yaitu metode tipologi dan metode Pemahaman Islam secara menyeluruh.
– Metodologi pendidikan Islam merupakan cara atau usaha yang dilakukan untuk kegiatan bimbingan dan pengajaran dalam memahami Islam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar