RESUME PEMBAHASAN
UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MANDIRI
MATA KULIAH: STUDY ISLAM
DOSEN PENGAMPU: Dr. H. M Tata Taufik, M. Ag.
Disusun oleh:
Irfan Maulana Yusuf
FAKULTAS DAKWAH
MA’HAD ‘ALI AL-IKHLASH
CIAWILOR CIAWIGEBANG KUNINGAN JAWA BARAT
2017
POKOK-POKOK BAHASAN
1.
Prinsip
dasar metodologi islam
2.
Manusia
dan kebutuhan akan agama
3.
Sumber
dan karakteristik islam
4.
Islam
sebagai agama, wahyu dan al-quran
5.
Produksi
budaya di islam
6.
Pengetahuan
ilmiah
7.
Beberapa
pendekatan study islam
8.
Metodologi
memahami islam
TUGAS
RESUME MATA KULIAH STUDY ISLAM
Nama: Irfan Maulana Yusuf
1.
Prinsip
Dasar Metodologi Islam
Metode adalah
suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu
disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara
menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau
penelitian. Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberi
uraian, penjelasan, dan penentuan nilai. Metode biasa digunakan dalam
penyelidikan keilmuan. Metodologi adalah ilmu cara- cara dan langkah- langkah
yang tepat (untuk menganalisa sesuatu) penjelasan serta menerapkan cara.
Dalam ilmu
tentang mengajar, metodologi disebut didaktik yaitu ilmu yang membahas tentang
kegiatan proses belajar mengajar yang menimbulkan proses belajar. Didaktik
dibedakan menjadi dua, yaitu dikdaktik umum dan didaktik khusus. Didaktik umum
membahas prinsip-prinsip umum dalam mengajar dan belajar, sedangkan didaktik
khusus yaitu membahas cara-cara guru menyajikan bahan pelajaran kepada pelajar.
Dalam kamus
besar bahasa Indonesia, metodologi berarti ilmu tentang metode atau uraian
tentang metode. Dan dalam bahasa Arab disebut minhaj, wasilah, kaipiyah,
dan thoriqoh, semuanya adalah sinonim, namun yang paling populer
digunakan dalam dunia pendidikan Islam adalah thoriqoh, bentuk jama’
dari thuruq yang berarti jalan atau cara yang harus ditempuh. Dalam
bahasa Inggris, metode di sebut method dan way, keduanya
diartikan cara. Sebenarnya yang lebih layak diterjemahkan cara adalah kata way
itu, bukan kata method. Karena metode istilah yang digunakan untuk
mengungkapkan pengertian “cara yang paling tepat (efektif) dan cepat (efisien)”
dalam melakukan sesuatu. Maka metodologi dalam pengertian ini adalah ilmu
tetang metode yaitu ilmu yang mempelajari cara yang paling tepat (efektif) dan
cepat (efisien) untuk mencapaian tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Pandangan Islam
yang bersifat filosofi terhadap alam jagat, manusia, masyarakat, pengetahuan,
dan akhlak, secra jelas tercermin dalam prinsip-prinsip pendidikan Islam. Dalam
pembelajaran, pendidik merupakan fasilitator. Ia harus mampu memberdayagunakan aneka
ragam sumber belajar. Dalam memimpin proses pembelajaran, pendidik perlu perlu
memperhatikan prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam dan senantiasa
mempedomaninya, bahkan sejauh mungkin merealisasikannya bersama-sama dengan
peserta didik.
Dalam
penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau
sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan
metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan
Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan
pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah
mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan
Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan
sosiologis.
2.
Manusia
dan Kebutuhan Akan Agama
Secara naluri, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan di luar
dirinya. Dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan
berbagai bencana. Manusia mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang
serba maha, yang dapat membebaskannya dari keadaan tersebut. Naluriah
membuktikan manusia perlu beragama dan
membutuhkan Sang Khaliknya.
Benih agama adalah rasa takut yang kemudian melahirkan pemberian
sesajen kepada yang diyakini yang memiliki kekuatan menakutkan. pada masa
primitif, kekuatan itu menimbulkan kepercayaan animisme dan dinamisme. Ia
memerinci bentuk penghormatan itu berupa Sesajian pada pohon-pohon besar, batu,
gunung, sungai-sungai, laut, benda alam, Menjaga dan menghormati kemurkaan yang
ditimbulkan akibat ulah manusia, misalnya upacara persembahan, ruatan, dan
mengorbankan sesuatu yang dianggap berharga.
Agama muncul dari rasa penyesalan seseorang. Namun bukan berarti
benih agama kemudian menjadi satu-satunya alasan bahwa manusia membutuhkan
agama. Karena kebutuhan manusia terhadap agama dapat disebabkan karena masalah
prinsip dasar kebutuhan manusia. Untuk menjelaskan perlunya manusia terhadap
agama sebagai kebutuhan. Terdapat dua faktor yang menyebabkan manusia
memerlukan agama. Yaitu:
·
Faktor
Kondisi Manusia
Kondisi manusia terdiri dari beberapa unsur, yaitu unsur jasmani
dan unsur rohani. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan kedua unsur tersebut
harus mendapat perhatian khusus yang seimbang. Unsur jasmani membutuhkan
pemenuhan yang bersifat fisik jasmaniah. Kebutuhan tersebut adalah makan-minum,
bekerja, istirahat yang seimbang, berolahraga, dan segala aktivitas jasmani
yang dibutuhkan. Unsur rohani membutuhkan pemenuhan yang bersifat psikis
(mental) rohaniah. Kebutuhan tersebut adalah pendidikan agama, budi pekerti,
kepuasan, kasih sayang, dan segala aktivitas rohani yang seimbang.
· Faktor Status Manusia
Status manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling
sempurna. Apabila dibanding dengan makhluk lain, Allah menciptakan manusia
lengkap dengan berbagai kesempurnaan, yaitu kesempurnaan akal dan pikiran,
kemuliaan, dan berbagai kelebihan lainnya. Dalam segi rohaniah manusia memiliki
aspek rohaniah yang kompleks. Manusia adalah satu-satunya yang mempunyai akal
dan manusia pulalah yang mempunyai kata hati. Sehingga dengan kelengkapan itu
Allah menempatkan mereka pada permukaan yang paling atas dalam garis horizontal
sesama makhluk. Dengan akalnya manusia mengakui adanya Allah. Dengan hati
nuraninya manusia menyadari dirinya tidak terlepas dari pengawasan dan
ketentuan Allah. Dan dengan agamalah manusia belajar mengenal Tuhan dan agama juga
mengajarkan cara berkomunikasi dengan sesamanya, dengan kehidupannya, dan
lingkungannya.
3.
Sumber
Dan Karakteristik Islam
Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada
masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW. Sumber ajarannya berasal dari wahyu
yang datang dari Allah SWT. Bukan berasal dari manusia dan bukan pula berasal
dari nabi Muhammad SAW. Di kalangan ulama’ terdapat kesepakatan bahwa sumber
ajaran Islam yang utama (primer) adalah Al qur’an dan sunnah
sebagai sumber ajaran kedua. Selain itu juga digunakan ro’yu atau akal
pikiran untuk memahami Alqur’an dan Sunnah. Sumber ajaran islam ada 3:
1.
Al-quran
Alqur’an merupakan sumber ajaran Islam pertama dan utama dalam
Islam. Alqur’an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah, turunnya
secara bertahap melalui malaikat, pembawanya adalah Nabi Muhammad SAW,
susunanny dimulai dari surat al fatihah bdan diakhiri surat an nass, bagi yang
membacanya bernilai ibadah, fungsinya sebagai hujjah atau bukti yang kuat atas
kerosulan Nabi Muhammad SAW, keberadaannya hingga kini masih terpelihara dengan
baik dan pemasyarakatannya dilaksanakan secara berantai dari satu generasi ke
generasi lainnya dengan tulisan dan lisan. Tujuan diturunkan Alqur;an untuk
menjadi pedoman bagi umat manusia dalam hidup. sehingga mencapai kesejahteraan
di dunia dan di akhirat.
2.
Sunnah
Sunnah adalah segala yang dinukilkan nabi SAW baik perkataan,
perbuatan maupun taqrir. Kedudukan as-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam selain
didasarkan pada keterangan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits juga didasarkan pada
kesepakatan para sahabat. Keberadaan as-Sunnah tidak dapat dilepaskan dari
adanya sebagian dari ayat al-Qur’an yaitu:
· Ayat yang bersifat global yang memerlukan perincian, maka Hadits
berfungsi untuk merinci petunjuk dan isyarat al-Qur’an yang global tersebut.
· Ayat besifat menyeluruh (umum) yang menghedaki pengecualian, maka
hadis berfungsi sebagai pengecualian terhadap isyarat Al-quran yang bersifat
umum.
· Ayat bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan, maka
hadist berfungsi sebagai pembatas.
3.
Ro’yu
Ro’yu atau akal pikiran merupakan sumber ajaran Islam yang ketiga
setelah al-Qur’an dan Hadits. Ro’yu disebut sebagai sumber sekunder atau
instrumental karena merupakan sarana atau alat untuk memahami ajaran dasar. Ro’yu
digunakan untuk ijtihad yaitu melakukan kesungguhan dan ketekunan optimal untuk
menetapkan hukum Syara’. Jadi, ijtihad dilakukan untuk menetapkan hukum yang
tidak dipenuhi dalam al-Qur’an dan Hadits.
4.
Islam
Sebagai Agama, Wahyu dan Al-quran
Islam datang untuk meluruskan agama-agama sebelumnya yang telah
diselewengkan oleh pengikutnya. Dibekali al-Qur’an sebagai kitab suci yang mana
otentitasnya sebagai wahyu Allah tidak diragukan lagi. Bahkan Allah menantang
kaumnya untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an jika mereka ragu bahwa
al-Qur’an bukan wahyu akan tetapi manusia tidak sanggup membuatnya yang
kekhasan dan keunikannnya sama dengan al-Qur’an. Sebagai kalam Allah, teks
dijadikan internalisasi kalam, sehingga perlu menggunakan cara-cara yang sesuai
dalam memahami teks sebagai pendekatan. Islam mempunyai cara sendiri untuk
memahami kitab sucinya, yaitu dengan penafsiran. Dalam metode tafsir, tidak
hanya dilihat secara parsial saja (hanya melihat teks), akan tetapi latar yang
melingkupi dan menimbulkan teks (Asbabun nuzul) tersebut juga menjadi
pertimbangan dalam penafsiran, sehingga darinya dapat diambil makna tersirat
(spirit) dari teks secara dhahir.
Sebagai wahyu, al-Qur’an bukan pikiran dan ciptaan Nabi Muhammad
SAW. Perdebatan sekitar otentitas al-Qur’an sebagai firman Allah (wahyu) telah
terjadi semenjak al-Qur’an diturunkan. Akan tetapi manusia tidak akan mampu
menyusun satu ayatpun sebagaimana al-Qur’an, baik segi susunan dan keindahan
bahasanya juga maknanya lebih-lebih kepastian dan kebenaran akan isinya yang
berlaku mutlak dan tidak bisa dipungkiri.
5.
Produksi
Budaya Islam
Kata “Islam” dalam berbagai kajian ilmiah, terutama sejarah bisa
diartikan ke dalam tiga kategori ; agama, negara, dan kultur. Islam sebagai fenomena
agama mengacu pada sistem kepercayaan dan amalan yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad SAW. Diwahyukan dalam Al-Quran dan Sunnah. Islam sebagai negara adalah
kesatuan dan kesepakatan politik yang dibangun berdasarkan Al-Quran dan Sunnah,
serta konsepsi yang berkembang di suatu masyarakat Islam yang menjelma dalam
bentuk pemerintahan seperti kekhilafahan, kesultanan, daulat-daulat, dan
keamiran.
Dari ketiga kategori di atas jelas bahwa Islam tidak menafikkan
sosial-budaya sebagai pendekatan penyebarannya. Namun terdapat perbedaan
pendapat mengenai islam bila dikatakan sebagai produk budaya. Pendapat pertama,
tidak setuju dengan pandangan bahwa agama itu kebudayaan adalah pemikiran bahwa
agama itu bukan berasal dari manusia, tetapi datang dari Tuhan, dan sesuatu
yang datang dari Tuhan tentu tidak dapat disebut kebudayaan. Kemudian,
sementara orang yang menyatakan bahwa agama adalah kebudayaan, karena praktik agama tidak dapat
dilepaskan dari kebudayaan.
Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang (pola hidup menyeluruh), dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang
rumit, termasuk di dalamnya;
1. Sistem
agama
2. Politik
3. Adat
istiadat
4. Bahasa
5. Perkakas
(pakaian, bangunan)
6. Seni
Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Budaya memiliki
pandangan keistimewaan tersendiri. Budaya menjadi pedoman mengenai perilaku
yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis.Budaya erat kaitannya
dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan
oleh kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri.
6.
Pengatahuan
Ilmiah
Ilmu pengetahuan dari aspek pragmatis terbagi kepada dua.
Pertama ilmu kealaman seperti: Fisika,
Kimia, Biologi yang bertujuan mensari hukum-hukum alam atau mensari
keteraturan-keteraturan yang terjadi pada alam. Kedua ilmu budaya yang
mempunyai sifat tidak berulang. Di antara kedua ilmu itu terdapat pula ilmu
sosial yang mencoba memahami gejala-gejala yang tidak berulang tetapi dengan
sara memahami keterangannya. Sedangkan ilmu pengetahuan manusia berdasarkan
kepada klasifikasi ilmu menurut objek ilmu pengetahuan terbagi pada tiga
bagian. Yaitu; Ilmu-ilmu Alam, Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora.
Dalam sejarah ilmu pengetahuan, filsafat adalah pengetahuan yang
pertama lahir. Filsafat inilah yang pertama kali mempersoalkan tentang alam.
Sehingga para ahli filsafat pada waktu itu disebut filosof alam. Seperti: Anaximandros,
Anaximenes, Thales. Dari perkembangan filsafat muncul lah disiplin ilmu lainnya
yang relative mandiri dan bidang tertentu. Seperti ilmu kealaman yang merupakan
disiplin ilmu yang pertama sekali muncul dari perkembangan filsafat.
Ilmu kealaman yang disebut juga dengan “Natural Scienses” adalah
ilmu yang mempelajari tentang susunan benda-benda serta perkembangannya. Ilmu-ilmu
kealaman disebut juga ilmu-ilmu eksakta (ilmu pasti)yang kebenarannya pasti,
walaupun dalam kenyataan sosiologisnya bersifat kebenaran probabilistis. Yaitu
sebuah teori keilmuan yang saat ini dianggap benar, namun besar kemungkinan
pada saat yang lain terori tersebut akan
di tumbangkan oleh teori yang datang belakangan.
7.
Pendekatan
Studi Islam
Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam
suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Sedangkan
metode dipahami lebih sempit dari pendekatan. Metode memiliki arti cara atau
jalan yang dipilih dalam upaya memahami sesuatu. Dalam hal ini, memahami ajaran
agama yang bersumber dari Alquran dan Hadist.
Berikut
akan dijelaskan beberapa pendekatan studi Islam:
· Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah
dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu
Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu
keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan lainnya.
Pendekatan normatif dapat diartikan studi Islam yang memandang masalah dari
sudut legal formal atau dari segi normatifnya. Dengan kata lain, pendekatan
normatif lebih melihat studi Islam dari apa yang tertera dalam teks Alquran dan
Hadits. Melalui pendekatan teologis normatif ini, seseorang memiliki sikap
militansi dalam beragama, yakni berpegang teguh kepada yang diyakininya. Namun
pendekatan ini biasa berkaitan dengan tauhid dan ushuluddin semata.
· Pendekatan Antropologis.
Dalam konteksnya sebagai metodologi, Antropologi merupakan ilmu
tentang masyarakat dengan bertitik tolak dari unsur-unsur tradisional, mengenai
aneka warna, bahasa-bahasa dan sejarah perkembangannya serta persebarannya, dan
mengenai dasar-dasar kebudayaan manusia dalam masyarakat. Memahami Islam secara
antropologis memiliki makna memahami Islam dengan mengungkap tentang asal-usul
manusia.
Berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya
hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik.
Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongan miskin pada umumnya, lebih
tertarik, kepada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, yang
menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan orang kaya lebih
cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara
ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
Melalui pendekatan antropologis di atas, kita melihat bahwa agama
ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu
masyarakat. Dalam hubungan ini, jika kita ingin mengubah pandangan dan sikap
etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan
keagamaannya.
· Pendekatan Antropologis
Pada prinsipnya, Sosiologi merupakan sebuah kajian ilmu yang
berkaitan dengan aspek hubungan sosial manusia antara yang satu dengan yang
lain, atau antara kelompok yang satu dengan yang lain. Pendekatan Sosiologi
merupakan sebuah pendekatan dalam memahami Islam dari kerangka ilmu sosial,
atau yang berkaitan dengan aspek hubungan sosial manusia antara yang satu
dengan yang lain, atau antara kelompok yang satu dengan yang lain.
· Pendekatan Filosofis
filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau
hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Filsafat mencari
sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat di balik yang bersifat
lahiriah. Sebagai contoh, kita jumpai berbagai merek pulpen dengan kualitas dan
harganya yang berlain-lainan namun inti semua pulpen itu adalah sebagai alat tulis. Ketika disebut alat tulis, maka
tercakuplah semua nama dan jenis pulpen.
Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan
dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari
ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara saksama. Tujuannya antara
lain agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang
lain. Dengan mengerjakan puasa misalnya agar seseorang dapat merasakan lapar
yang selanjutnya menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba
kekurangan.
· Pendekatan Historis
Pendekatan historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas
berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar
belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa
dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa
sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama,
karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan
dengan kondisi sosial kemasyarakatan.
· Pendekatan Psikologis
Psikologi mempelajari tentang jiwa seseorang melalui gejala
perilaku yang dapat diamati. Dalam konteks studi agama, pendekatan Psikologis
diartikan sebagai penerapan metode-metode dan data psikologis ke dalam studi
tentang keyakianan dan pemahaman keagamaan untuk menjelaskan gejala atau sikap
keagamaan seseorang, atau dengan kata lain, pendekatan psikologis merupakan
pendekatan keagamaan dengan menggunakan paradigma dan teori-teori psikologis
dalan memahami agama dan sikap keagamaan seseorang.
Salah satu cara yang dapat diterapkan dalam pendekatan ini adalah
dengan cara mempelajari jiwa seseorang melalui perilaku yang tampak yang
mungkin saja dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Dalam hal ini,
pendekatan psikologis tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama atau
keyakinan yang dianut seseorang, melainkan dengan mementingkan bagaimana
keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya.
8.
Metodologi
Memahami Islam
Istilah dari metodologi berasal dari bahasa yunani, yakni methodos
dan logos. Methodos berarti cara, kiat, dan seluk beluk yang
berkaitan dengan upaya menyelesaikan sesuatu. Sementara logos berarti
ilmu pengetahuan, cakrawala, dan wawasan.
Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberi
uraian, penjelasan, dan penentuan nilai. Metode biasa digunakan dalam
penyelidikan keilmuan. Metode adalah suatu ilmu yang memberi pengajaran tentang
sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan
keilmuan. Metode juga dapat diartikan sebagai cabang logika yang merumuskan dan
menganalisis prinsip-prinsip yang tercakup dalam menarik kesimpulan logis untuk
membuat konsep.
Metode dalam memahami Islam harus dilihat dari berbagai dimensi.
Dalam hubungan ini, jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandang saja, maka
yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak.
Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup bila kita
ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Alqur’an sendiri. Kitab
ini memiliki banyak dimensi, sebagiannya telah dipelajari oleh sarjana-sarjana
besar sepanjang sejarah.
Adapun metode lain untuk memahami Islam adalah metode tipologi.
Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif berisi klasifikasi
topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topic dan tema
yang mempunyai tipe yang sama. Dalam hal agama Islam, juga agama-agama lain, yaitu:
·
Aspek
ketuhanan
·
Aspek
kenabian
·
Aspek
kitab suci
·
Aspek
keadaan waktu munculnya nabi, orang-orang yang di dakwahinya, dan
individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
Ada juga yang memahami islam secara menyeluruh. Cara tersebut digunakan
untuk memahami Islam paling besar agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan
untuk menumbuhkan sikap saling menghormati terhadap pemeluk agam lain. Metode
tersebut juga di tempuh dalam rangka menghindari kesalahfahaman yang
menimbulkan sikap dan pola hidup beragama yang salah.
Untuk
memahami Islam dengan metode tersebut, terdapat empat cara:
1. Islam
harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alqur’an dan sunnah Rasul.
2. Islam
harus dipelajari secara integral atau secara keseluruhan.
3. Islam
perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum
zu’ama, dan sarjana Islam.
4. Islam
hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis dalam Alqur’an kemudian
dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosologis.
Dari
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
–
Metode adalah suatu ilmu yang memberi penjelasan tentang sistem dan langkah
yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan.
–
Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan.
Metodologi
dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat
agar dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam
–
Ada beberapa metode dalam memahami Islam, diantaranya yaitu metode tipologi dan
metode Pemahaman Islam secara menyeluruh.
–
Metodologi pendidikan Islam merupakan cara atau usaha yang dilakukan untuk
kegiatan bimbingan dan pengajaran dalam memahami Islam.