KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang dengan
Rahmat-Nya memberikan nikmat kepada kita semua sebagai mahkluk-Nya, yang berupa
nikmat Iman dan Islam serta nikmat waktu untuk berfkir, untuk menggali
ilmu-ilmu Allah yang begitu luas.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi akhir
zaman yakni Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya sahabatnya dan kita selaku
umatnya.
Alhamdulillah pemakalah bisa menyelesaikan makalah yang sederhana
ini, yang tidak luput dari kekurangan. Ucapan terima kasih pemakalah sampaikan
kepada Drs. Adnan Sulaiman selaku dosen pada mata kuliah Psikologi
Dakwah yang telah memberikan kesempatan untuk menggali ilmu ini lebih dalam
lagi.
Selebihnya kami mohon maaf, apabila tugas makalah ini terdapat
banyak kesalahan dan kekurangan-kekurangan baik dalam bentuk tulisan ataupun
yang lainnya.
والسلام
عليكم ورحمة الله وبر كا ته
Ciawlor,
2 September 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... I
DAFTAR ISI..................................................................................................................... II
BAB I.................................................................................................................................. III
PENDAHULUAN................................................................................................. IV
A. Latar Belakang.................................................................................................. IV
B. Rumusan Masalah............................................................................................ IV
1. Bagaimana peranan keluarga terhadap
perkembangan sosial?....................... IV
2. Proses apa sajakah dalam kehidupan seorang
anak?...................................... IV
3. Apa fungsi keluarga dalam membangun
hubungan yang baik dalam keluarga itu sendiri? IV
C. Tujuan Pembahasan......................................................................................... IV
Untuk mengetahui bagaimana peranan keluarga terhadap perkembangan sosial.... IV
BA B II: PEMBAHASAN................................................................................................ 1
Peranan Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial..................................... 1
Ada proses imitasi dalam kehidupan seorang anak ...................................... 1
Punya kemampuan mempengaruhi orang lain.............................................. 2
Punya empati..................................................................................................... 2
Keutuhan Keluarga.......................................................................................... 2
Sikap dan Kebiasaan Orang Tua.................................................................... 3
Peranan Lingkungan Kerja ........................................................................... 4
Peranan Media Masa........................................................................................ 4
BAB III: PENUTUP......................................................................................................... 12
D. Kesimpulan................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa hidup
dalam suatu lingkungan, baik lingkungan fisik, psikis atau spiritual. Dalam
menguraikan pengaruh masyarakat terhadap perkembangan sosial akan ditekankan kepada pengaruh kelompok sosial yang pertama-tama dihadapi manusia sejak ia
dilahirkan yaitu keluarga, kemudian pengaruh sekolah dan pengaruh lainnya pada
pembentukan manusia sebagai makhluk sosial, dan akan diuraikan pula pengaruh keluarga dalam
perkembangan dari pada tingkah laku kriminil dari anak-anak dan
pemuda. Oleh sebab itu manusia kemudian mengembangkan kebudayaan untuk
mengisi kekosongan yang tidak diisi oleh naluri. Karena keputusan yang diambil
suatu kelompok dapat berbeda dengan kelompok yang lain maka kita menjumpai
keanekaragaman kebiasaan.
Pengaruh masyarakat terhadap perkembangan sosial juga berkaitan erat dengan sosilisasi. Karna peran
agen sosialisasi mendukung perkembangan sosial dalam masyarakat. Media sosialisasi merupakan tempat dimana sosialisasi itu terjadi
atau disebut juga sebagai agen sosialisasi atau sarana sosialisasi. Yang
dimaksudkan dengan agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang membantu seorang
individu menerima nilai-nilai atau tempat dimana seorang individu belajar
terhadap segala sesuatu yang kemudian menjadi dewasa.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana peranan keluarga terhadap
perkembangan sosial?
2. Proses apa sajakah dalam kehidupan
seorang anak?
3. Apa fungsi keluarga dalam membangun hubungan
yang baik dalam keluarga itu sendiri?
C. Tujuan Pembahasan
Untuk mengetahui bagaimana peranan keluarga terhadap perkembangan sosial.
BA B II
PEMBAHASAN
Peranan Keluarga Terhadap Perkembangan
Sosial
Keluarga merupakan kelompok sosial
yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri
sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya.
Segala-galanya yang telah diuraikan mengenai interaksi kelompok keluarga yang
merupakan kelompok primer itu, termasuk pembentukan norma-norma sosial,
internalisasi norma-norma, dan lain-lainnya.
Keluarga adalah kelompok primer, yaitu kelompok yang mempunyai
interaksi sosial yang cukup intensif, cukup akrab, hubungan antara anggota satu
dengan anggota yang lain cukup baik. Kelompok ini juga sering dikenal face to face group, anggota
kelompok satu sering bertemu dengan anggota kelompok yang lain, sehingga para
anggota kelompok saling mengenal dengan baik. Kelompok ini juga berpengaruh
dalam perkembangan dan kehidupan individu.
Pengalaman-pengalamannya dalam interaksi sosial dalam keluarganya
turut menentukan pula cara-cara prilakunya terhadap orang lain dalam pergaulan
sosial diluar keluarganya. Jadi, selain dari peranan umum kelompok keluarga
sebagai ke rangka sosial yang pertama, tempat manusia berkembang sebagai mahluk
sosial, terdapat pula peranan peranan tertentu didalam keadaan-keadaan keluarga
yang dapat mempengaruhi perkembangan individu sebagai mahlik sosial.
Perkembangan sosial manusia dimulai dari masa bayinya. Bayi adalah
makhluk sosial sejak awal hidupnya. Pada usia satu bulan bayi bereaksi terhadap
suara dan wajah seseorang. Antara dua dan tiga bulan bayi mengembangkan senyum
sosial, yaitu mereka mulai tersenyum hampir pada setiap orang. Ini adalah
perkembangan yang penting karena mengundang orang dewasa untuk berinteraksi
dengan bayi.
Dalam masa perkembangan selanjutnya sejumlah hal yang terjadi dalam
kehidupannya, diantanya adalah sebagai berikut:
Ada proses imitasi dalam kehidupan seorang anak
Salah satu fungsi dari hal meniru ini ialah untuk memajukan
interaksi sosial. Anak-anak lebih mungkin meniru suatu tindakan yang telah
disetujui, misalnya makan dengan sendok.
Punya kemampuan mempengaruhi orang lain
Anak usia dua tahun mulai mengarahkan perilaku orang lain. Tujuannya
bukan untuk mendapatkan benda tertentu, tetapi untuk mempengaruhi orang dewasa.
Anak tidak akan memberi perintah jika mereka tidak berharap orang tua mematuhi
mereka. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang anak mempunyai kesadaran
tentang kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain.
Punya empati
Yang dimaksudkan di sini ialah kemampuan untuk menghargai persepsi
dan perasaan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan sikap anak jika mereka
melihat orang lain terluka atau tertekan. Pengalaman-pengalamannya dalam
interkasi sosial dalam keluarganya turut menetukan pula cara-cara tingkah
lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluar-ganya, di
dalam masyarakat pada umumnya. Apabila interaksi sosialnya di dalam
kelompok-kelompok karena beberapa sebab tidak lancar atau tidak wajar,
kemungkinan besar bahwa interkasi sosialnya dengan masyarakat pada umumnya juga
berlangsung dengan tidak wajar.
Keadaan sosial ekonomi keluarga tentulah mempunyai peranannya
terhadap perkembangan anak-anak apabila kita pikirkan bahwa dengan adanya
perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak di dalam
keluarganya itu lebih luas, ia mendapat kesempaan yang lebih luas untuk memperkembangkan
bermacam-macam kecakapan.
Walaupun status sosial ekonomi orang tua memuaskan, tetapi apabila
mereka itu tidak memperhatikan didikan anaknya atau senantiasa bercekcok, hal
itu juga tidak menguntungkan perkembangan sosial anak-anaknya. Pada akhirnya,
perkembangan sosial anak itu turut ditentukan pula oleh sikap-sikap anak
sendiri terhadap keadaan keluarganya.
Keutuhan
Keluarga
Salah satu faktor utama lain yang mempengaruhi perkembangan sosial
anak-anak kepada masyarakat ialah faktor keutuhan keluarga. Yang dimaksud
dengan keutuhan keluarga ialah, pertama-tama keutuhan dalam struktur keluarga,
yaitu bahwa didalam keluarga itu adanya ibu dan anak-anaknya. Apabila tidak ada
ayahnya atau ibunya atau keduanya, maka struktur keluarga sudah tidak utuh
lagi. Juga apabila ayah atau ibunya jarang pulang ke rumah dan berbulan-bulan
meninggalkan anaknya karena tugas atau hal lainnya dan hal ini terjadi secara
berulang-ulang, maka struktur keluarga itupun sebenarnya tidak utuh lagi. Pada
akhirnya, apabila orang tuanya hidup bercerai, juga keluarga itu tidak utuh
lagi.
Sikap
dan Kebiasaan Orang Tua
Selain status sosial ekonomi dan keutuhan keluarga dan
interkasinya, cara-cara dan sikap-sikap dalam pergaulannya memegang pernan yang
cukup penting di dalamnya. Hal ini mudah diterima apabila kita ingat bahwa
keluarga itu sudah merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan,
struktur, norma-norma, dinamika kelompok, termasuk cara-cara kepemimpinannya
yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok
tesebut. Seperti hasil eksperimen yang telah dilakukan oleh Lewin, Lippit dan
white mengenai cara-cara kepemimpinan dalam kelompok yaitu cara demokratis,
laisses-fair, dan otoriter yang masing-masing mempunyai pengaruh besar terhdap
suasana kerja kelompok dan tingkah laku anggotanya[1].
Satus
Anak
Yang dimaksud dengan status anak dalam hal ini adalah status anak
sebagai anak tunggal, status anak sulung, atau anak bungsu di antara
kakak-kakaknya. Mengenai peranan status anak tunggal dalam keluarga telah
diadakan penelitian oleh Herman, Leipzig, 1939 (12), yang menyelidiki 100 orang
anak tunggal dibandingkan dengan 100 orang anak yang berkakak-adik, yaitu
dengan cara angket dan analisis dari laporan kepribadiannya[2].
Menurut penelitian tersebut, yang pertama-tama dirugikan pada
perkembangan anak tunggal itu ialah hal-hal mengenai “perasaan aku” di dalam
dirinya. Ia memperoleh hasil, bahwa anak-anak tunggal dibandingkan dengan
anak-anak yang bersaudara biasanya egoistis sekali, mencari penghargaan dirinya
dengan berlebihan, dan sebagainya, juga anak tunggal memiliki keinginan untuk
berkuasa yang berlebihan. Disamping itu, mereka mudah sekali dihinggapi
perasaan rendah diri.
Seorang peneliti lainnya, Cattell (2), New York, 1950, berpendapat
bahwa orang-orang yang berkembang
sebagai anak tunggal kerap kali memperlihatkan sifat-sifat infantilisme
(kekanak-kanakan) yang menyatakan dirinya dalam cetusan-cetusan amarah yang
bukan-bukan, tetapi paa pihak lain anak tunggal itu lebih mudah mengorientasi
dirinya kepada orang-orang dewasa, dan kepada cita-cita serta sikap pandangan
orang dewasa.
Peranan Lingkungan
Kerja
Pengaruh positif dari lingkungan kerja di dalam suatu perusahaan besar yang
modern pernah dirumuskan sebagai berikut: “Dengan adanya cara kerja yang
tersusun, kebersihan dan ketelitian yang harus dipelihara di dalam perusahaan
besar, maka orangnya pun akan memperoleh latihan di dalamnya. Di samping itu, kecermatan, kecepatan, ketepatan, dan
keteraturan yang diperlukan dalam bermacam-macam pekerjaan dalam suatu
perusahaan modern itu mempunyai pengaruh “mendisiplinkan” manusia dan membentuk
manusia yang cakap.
Sebaliknya, sebagai pengaruh negatif dari hidup dan cara kerja suatu kota industribesar modern dapat dirumuskan, bahwa interaksi sosial antar manusia di sana sudah tidak bersifat
kekeluargaan lagi, tetapi bercorak rasional dan terlampau individualistis.
Mengenai pengaruh lingkungan pekerjaan yang bersifat
pertanian di desa ada pendapat, bahwa lingkungan pekerjaan tersebut memudahkan
terbentuknya kepribadian yang harmonis, realistis, tidak tergesa-gesa, yang
bersifat kekeluargaan.
Peranan Media Masa
Yang menjadi perhatian para peneliti mengenai pengaruh media masa ini
terhadap perkembangan orang ialah, apakah dan bagaimanakah pengaruh yang
negatif dari frekuensi menonton bioskop, melihat televisi, dan dari
membaca perpustakaan komik.
Seorang peneliti, Flik, 1954 (5), mendapatkan bahwa pada sejumlah anak-anak
yang menjadi kriminal terdapat frekuensi yang lebih tinggi, yaitu
rata-rata dua kali seminggu mereka menonton bioskop.
Tetapi perbedaan antara frekuensi menonton ini sendiri tidak perlu
dijadikan suatu sebab, bahwa yang sering menonton itu akan memperoleh pengaruh
yang jelek, sedangkan yang jarang menonton tidak akan memperoleh pengaruh yang
buruk. Hal ini telah diselidiki oleh Shuttleworth dan May
(23), New York, 1933[3]. Mereka membandingkan
sikap-sikap dan tingkah laku anak sekolah yang menonton dua kali atau lebih
dalam seminggu dengan sikap dan tingkah laku anak sekolah yang hanya sekali
sebulan menonton bioskop atau kurang. Mereka tidak memperoleh
perbedaan-perbedaan yang berarti (signifikan) antara tingkah laku dan sikap
kedua golongan anak-anak tersebut. Dalam hal ini juga ditegaskan dalam
penelitian sebuah Lembaga Penyelidikan Pendidikan IKIP Bandung.
Lain halnya dengan beberapa hasil penelitian mengenai
pengaruh sering melihat televisi oleh anak-anak.
Every, 1952 (4), mendapatkan bahwa 33,3% dari anak-anak yang sering
menonton televisi oleh gurunya dinilai sebagai anak-anak yang tidak tenang
(gelisah), sedangkan Leis (11) memperoleh hasil, bahwa anak-anak yang menonton
televisi lebih dari 11-15 jam seminggu mengalami pengurangan prestasi mereka di
sekolah[4].
Pengaruh dari membaca buku-buku komik diteliti oleh Doetsch,
1959 (3). Ia menyelidiki dua golongan itu tidak ada bedanya yang berarti. Hanyalah pemudi
pembaca komik itu nyata lebih lalai dalam cara kerjanya, sedangkan
pemudi-pemudi ang tidak membaca komik lebih teliti dan sungguh-sungguh.
Masalah Tingkah Laku Kriminal
Dengan menggunakan definisi Prof. Noach (20), seorang ahli kriminologi yang
membedakan-bedakan pengertian kriminologi alam arti yang luas dan kriminologi
dalam arti yang terbatas, maksudnya ialah memperbincangkan salah satu pokok
kriminologi dalam arti terbatas itu, yang meliputi gejala-gejala kriminal,
sebab-sebab dan akibat-akibat dari tingkah laku kejahatan. Menurut beliau, kriminalitas manusia normal adalah
akibat, baik dari faktor keturunan maupun faktor lingkungan, di mana terkadang faktor
keturunan maupun terkadang faktor lingkungan memegang peranan utama, dan di
mana kedua faktor itu dapat juga saling mempengaruhi.
Seorang manusia normal bukan sejak lahirnya ditentukan untuk menjadi
kriminal oleh faktor pembawaannya yang dalam saling pengaruh dengan
lingkungannya menjelmakan tingkah laku kriminal, melainkan faktor-faktor yang
terlibat dalam interaksi dengan lingkungan sosial itulah yang memberi
pengaruhnya bahwa ia mudah menjadi orang kriminal. Pembawaannya akan menghindarkan bahwa ia betul-betul
menjadi kriminal dalam pengaruh-pengaruh lingkungan yang memudahkannya itu.
Keluarga merupakan bagian dari sebuah masyarakat.
Unsur-unsur yang ada dalam sebuah keluarga baik budaya, mazhab, ekonomi bahkan
jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi perlakuan dan pemikiran anak
khususnya ayah dan ibu. Pengaruh keluarga dalam pendidikan anak sangat besar
dalam berbagai macam sisi. Keluargalah yang menyiapkan potensi pertumbuhan dan
pembentukan kepribadian anak. Lebih jelasnya, kepribadian anak tergantung pada
pemikiran dan tingkah laku kedua orang tua serta lingkungannya. Kedua orang tua
memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Islam
menawarkan metode-metode yang banyak di bawah rubrik aqidah atau keyakinan,
norma atau akhlak serta fikih sebagai dasar dan prinsip serta cara untuk
mendidik anak. Dan awal mula pelaksanaannya bisa dilakukan dalam keluarga.
Sekaitan dengan pendidikan, Islam menyuguhkan aturan-aturan di antaranya pada
masa pra kelahiran yang mencakup cara memilih pasangan hidup dan adab
berhubungan seks sampai masa pasca kelahiran yang mencakup pembacaan azan dan
iqamat pada telinga bayi yang baru lahir, tahnik (meletakkan buah kurma pada
langit-langit bayi, mendoakan bayi, memberikan nama yang bagus buat bayi,
aqiqah (menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin), khitan dan
mencukur rambut bayi dan memberikan sedekah seharga emas atau perak yang
ditimbang dengan berat rambut. Pelaksanaan amalan-amalan ini sangat berpengaruh
pada jiwa anak.
Perilaku-perilaku anak akan menjadikan penyempurna
mata rantai interaksi anggota keluarga dan pada saat yang sama interaksi ini
akan membentuk kepribadiannya secara bertahap dan memberikan arah serta
menguatkan perilaku anak pada kondisi-kondisi yang sama dalam kehidupan.
Ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi pembentukan
pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan
sendirinya memiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku
anak. Karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai
ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan sebagai
faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi
budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibulah yang harus melaksanakan tugasnya di
hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga
akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan
dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh.
Faktor-faktor (genetik dan lingkungan) secara terpisah
atau dengan sendirinya tidak bisa menentukan pendidikan tanpa adanya yang
lainnya, akan tetapi masing-masing saling memiliki andil dalam menentukan
pendidikan dan kepribadian seseorang sehingga jika salah satunya tidak banyak
dipergunakan maka yang lainnya harus dipertekankan lebih keras. Konteks
kepribadian yang sudah didefinisikan pada pembahasan di atas tidak ada
kaitannya dengan kepribadian baik atau buruk, akan tetapi dalam tulisan ini
penulis berusaha mengkaji kepribadian yang baik dan positif dalam bingkai peran
kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak. Kedua orang tua memiliki
tugas di hadapan anaknya di mana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan
anaknya. Anak pada awal masa kehidupannya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang
harus dipenuhinya. Dengan dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka maka orang tua
akan menghasilkan anak yang riang dan gembira. Untuk mewujudkan kepribadian
pada anak, konsekuensinya kedua orang tua harus memiliki keyakinan terhadap
nilai-nilai kemanusiaan, begitu juga kedua orang tua harus memiliki pengetahuan
berkaitan dengan masalah psikologi dan tahapan perubahan dan pertumbuhan
manusia.
Fungsi
Keluarga
Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga)
yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi
pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan
peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga
merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui
perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya.
Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya,
maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self
actualization). Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting
bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan ini
diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar
keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan
mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga.Secara psikososiologis
keluarga berfungsi sebagai[5]:
(1)
pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya,
(2)
sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis,
(3)
sumber kasih sayang dan penerimaan,
(4) model
pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat
yang baik,
(5)
pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat,
(6)
pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka
menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan,
(7)
pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang
dibutuhkan untuk penyesuaian diri,
(8)
stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di
sekolah maupun di masyarakat,
(9)
pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan
(10)
sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan
teman di luar rumah.
Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas
perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab,
perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuh kembangkan anaka yang
dicintainya. Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh
konflik, atau gap communication dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan
mental (mental illness) bagi anak.
Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan
lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga
dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang
terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga
selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah
“perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara
akulturatif (tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh
keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang
gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluaraga yang penuh konflik,
tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap
nilai-nilai yang rusak. Sejalan dengan modernitas, sekolah memang berperan
sebagai in loco parentis atau mengambil alih peran orang tua. Tetapi institusi
sekolah tidak akan mampu mengambil alih seluruh peran orang tua dalam
pendidikan anak.
Pendidikan dalam lingkungan keluarga sebaiknya
diberikan sedini mungkin St. Franciscus Xaverius mengatakan: “Give me the
children until are seven and anyone may have them afterward”. Sedangkan menurut
Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad
(SAW), menganjurkan: Ajaklah anak pada usia sejak lahir sampai tujuh tahun
bermain, ajarkan anak peraturanatau adab ketika meraka berusia tujuh sampai
empat belas tahun, pada usia empat belas sampai dua puluh satu tahun,
jadikanlah anak sebagai mitra orang tuanya.
Keluarga sebagai lingkungan yang paling dekat dengan
anak tentu memainkan peran besar dalam kehidupan anak. Dalam penelitian
terbaru, lingkungan keluarga seperti hubungan antara ibu dan anak menjadi
bagian yang menentukan kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Kemampuan
untuk meregulasi emosi ini di masa perkembangan anak yang selanjutnya akan
mempengaruhi kemampuan anak mengontrol kecemasan diri dan kemampuan hubungan
sosial anak2.
Selain itu, keharmonisan di dalam lingkungan keluarga
terutama di dalam rumah (sebagai tempat interaksi sehari hari anak berlangsung)
menjadi faktor utama dalam perkembangan emosi anak. Anak yang sering mendengar
orang tuanya bertengkar akan sering mengalami kesulitan dalam interaksi
bermainnya sehari-hari1. Sebaliknya, anak yang berada di lingkungan orang tua
yang harmonis dan suportif cenderung mengabaikan hal hal negatif di sekitarnya
dan lebih mudah bereaksi dengan hal yang lebih positif.
Yang disebut di atas hanyalah sebagian kecil contoh
pengaruh yang diberikan lingkungan keluarga terhadap perkembangan emosi anak.
Contoh lain, orang tua yang sering membantu anaknya yang masih berusia dini
untuk lebih mengenal emosinya, akan membuat anak lebih mudah mengekspresikan
emosi dengan cara yang benar3. Misalnya, ketika orang tua mendampingi anak
bermain, orang tua mendapati mainan anak direbut oleh teman bermainnya. Anak
lalu menangis. Sikap orang tua yang mendampingi anak, lalu berusaha
menghentikan tangis anak. Orang tua yang cukup bijak, tidak hanya akan memarahi
anak lain untuk mengembalikan mainan namun juga
memberi pengertian kepada anak. Beri pengertian bahwa ketika mainan kita
diambil memang sudah sepantasnya kita merasa sedih atau marah. Perasaan ini
bisa diungkapkan dengan menangis atau melaporkan dengan orang dewasa yang
mengawasi mereka bermain, bukan dengan berlaku kasar pada orang yang mengambil
mainan itu. Dengan demikian, selain anak akan lebih mengenal emosi yang ia
rasakan, anak juga akan mengetahui apa yang harus ia lakukan ketika ia
mengalami emosi itu.
Perkembangan berkenaan dengan keseluruhan kepribadian
individu, karena kepribadian individu membentuk satu kesatuan yang
terintegrasi. Kesatupaduan kepribadian ini sebenarnya sukar dipisah-pisahkan,
tetapi untuk sekedar membantu mempermudah mempelajari dan memahami, pembahasan
aspek demi aspek biasa dilakukan.
Keluarga adalah suatu sistem sosial berskala kecil
yang dibentuk oleh individu-individu yang saling berhubungan secara timbal
balik dan di ikat oleh afeksi, kesetiaan serta membentuk suatu rumah tangga
yang di pertahankan dalam jangka waktu yang lama.
Dengan kasih sayang dan loyalitas sebagai andalan,
anggota keluarga diharapkan saling terikat dan saling berinteraksi sedemikian
rupa sehingga dapat membantu perkembangan fisik maupun perkembangan kepribadian
para anggotanya.
Suatu keluarga adalah bagian dari jaringan sosial yang
lebih luas dan di pengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari lingkungan
masyarakat. contohnya, hubungan dan perilaku antar anggota keluarga untuk
sebagian diatur oleh berbagai norma dan kebiasaan yang ada di masyarakat,
dipengaruhi oleh kondisi keuangan keluarga dan dipengaruhi oleh angka
perceraian, tempat tinggal dan lain-lain.
Secara sederhana kita dapat membedakan bebebrapa aspek
utama kepribadian, yaitu aspek : fisik dan motorik, intelektual, sosial,
bahasa, emosi, moral dan keagamaan dimana satu sama lain memiliki keterkaitan
yang sangat erat yang menunjukkan keterpaduan kepribadian yang sangat erat. Aspek
bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi, meraba dan diikuti dengan
bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan
seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa kompleks sesuai
dengan tingkat perilaku sosial. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh
lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sanagat sederhana
menuju ke bahasa yang sangat kompleks. Perkembangan bahasa sangat dipengaruhi
oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari
lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal lain,
“meniru” dan “mengulang” hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar
bahasa awal.
Aspek fisiologis emosional memiliki aspek-aspek
fisiologis yang mempersiapkan individu untuk menyelesaikan hal yang bersifat
darurat. Seseorang dalam merespon sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran
dan pertimbangan-pertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat tertentu di dalam
kehidupannya, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi
pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya.
Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga)
yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi
pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan
peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga
merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui
perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya.
Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya,
maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri
(self-actualization).
Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat
penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan
ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi
dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan
mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga. Secara
psikososiologis keluarga berfungsi sebagai pemberi rasa aman bagi anak dan
anggota keluarga lainnya, sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis,
sumber kasih sayang dan penerimaan, model pola perilaku yang tepat bagi anak
untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang bak, pemberi bimbingan bagi
pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat, pembentuk anak dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap
kehidupan, pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan
sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri, stimulator bagi pengembangan
kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat, pembimbing
dalam mengembangkan aspirasi, dan sumber persahabatan/teman bermain bagi anak
sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.
Ketika anak masuk ke sekolah mengikuti pendidikan
formal, dasar-dasar karakter anak ini sudah terbentuk. Anak yang sudah memiliki
watak yang baik biasanya memiliki achievement motivation yang lebih tinggi
karena perpaduan antara intelligence quotient, emotional quotient dan spiritual
quotient sudah mulai terformat dengan baik. Disamping itu, hal tersebut bisa
pula mengurangi beban sekolah dengan pemahaman bahwa sekolah bisa lebih
berfokus pada aspek bagaimana memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak
untuk mengembangkan potensi konigtif, afektif dan motorik.
Pada perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh
aspek perkembangan anak. Pada perkembangan awal anak, mereka telah menjalin
hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Kepribadian orang
yang terdekat akan mempengaruhi perkembangan baik sosial maupun emosional.
Kerjasama dan hubungan dengan teman berkembang sesuai dengan bagaimana
pandangan anak terhadap lingkungan sekitarnya.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan
dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk
menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan
diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai
perkembangan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang
berlaku di dalam masyarakat di mana anak berada. Perkembangan sosial anak
sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orangtua terhadap anak
dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan
bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana
menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
BAB III
PENUTUP
D.
Kesimpulan
Masa anak
merupakan periode perkembangan yang cepat dan dapat terjadinya perubahan dalam
banyak aspek perkembangan. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat
terhadap perkembangan berikutnya. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat
membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya dan
melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dan
pembentukan karakter atau kepribadian anak yang bermula dari lingkungan pertama
dan lingkungan terkecil yaitu lingkungan keluarga. Bagi kebanyakan anak,
lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan
kemudian masyarakat. keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak,
oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak
sangatlah penting. Orang tua adalah contoh atau model bagi anak, orang tua
mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak ini dapat di lihat dari bagaimana
orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya, orang tua juga
merupakan mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan dan memberikan kasih
sayang secara mendalam, baik positif atau negatif.
DAFTAR PUSTAKA
·
Drs. Abu Ahmadi. Psikologi Sosial. (Jakarta: Rineka
Cipta, 1999)
·
Syamsu Yusuf, Perkembangan Anak dan Remaja, PT. Rineka
Cipta, Bandung 2006