Jumat, 08 Mei 2020

Peran Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial











KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang dengan Rahmat-Nya memberikan nikmat kepada kita semua sebagai mahkluk-Nya, yang berupa nikmat Iman dan Islam serta nikmat waktu untuk berfkir, untuk menggali ilmu-ilmu Allah yang begitu luas.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi akhir zaman yakni Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya sahabatnya dan kita selaku umatnya.
Alhamdulillah pemakalah bisa menyelesaikan makalah yang sederhana ini, yang tidak luput dari kekurangan. Ucapan terima kasih pemakalah sampaikan kepada Drs. Adnan Sulaiman selaku dosen pada mata kuliah Psikologi Dakwah yang telah memberikan kesempatan untuk menggali ilmu ini lebih dalam lagi.
Selebihnya kami mohon maaf, apabila tugas makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan-kekurangan baik dalam bentuk tulisan ataupun yang lainnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته



Ciawlor, 2 September 2017

Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... I
DAFTAR ISI..................................................................................................................... II
BAB I.................................................................................................................................. III
PENDAHULUAN................................................................................................. IV
A. Latar Belakang.................................................................................................. IV
B.  Rumusan Masalah............................................................................................ IV
1.   Bagaimana peranan keluarga terhadap perkembangan sosial?....................... IV
2.   Proses apa sajakah dalam kehidupan seorang anak?...................................... IV
3.   Apa fungsi keluarga dalam membangun hubungan yang baik dalam keluarga itu sendiri?    IV
C. Tujuan Pembahasan......................................................................................... IV
Untuk mengetahui bagaimana peranan keluarga terhadap perkembangan sosial.... IV
BA B II: PEMBAHASAN................................................................................................ 1
Peranan Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial..................................... 1
Ada proses imitasi dalam kehidupan seorang anak ...................................... 1
Punya kemampuan mempengaruhi orang lain.............................................. 2
Punya empati..................................................................................................... 2
Keutuhan Keluarga.......................................................................................... 2
Sikap dan Kebiasaan Orang Tua.................................................................... 3
Peranan Lingkungan Kerja  ........................................................................... 4
Peranan Media Masa........................................................................................ 4
BAB III: PENUTUP......................................................................................................... 12
D. Kesimpulan................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 13



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa hidup dalam suatu lingkungan, baik lingkungan fisik, psikis atau spiritual. Dalam menguraikan pengaruh masyarakat terhadap perkembangan sosial akan ditekankan kepada pengaruh kelompok sosial yang pertama-tama dihadapi manusia sejak ia dilahirkan yaitu keluarga, kemudian pengaruh sekolah dan pengaruh lainnya pada pembentukan manusia sebagai makhluk sosial, dan akan diuraikan pula pengaruh keluarga dalam perkembangan dari pada tingkah laku kriminil dari anak-anak dan pemuda. Oleh sebab itu manusia kemudian mengembangkan kebudayaan untuk mengisi kekosongan yang tidak diisi oleh naluri. Karena keputusan yang diambil suatu kelompok dapat berbeda dengan kelompok yang lain maka kita menjumpai keanekaragaman kebiasaan.
Pengaruh masyarakat terhadap perkembangan sosial juga berkaitan erat dengan sosilisasi. Karna peran agen sosialisasi mendukung perkembangan sosial dalam masyarakat. Media sosialisasi merupakan tempat dimana sosialisasi itu terjadi atau disebut juga sebagai agen sosialisasi atau sarana sosialisasi. Yang dimaksudkan dengan agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang membantu seorang individu menerima nilai-nilai atau tempat dimana seorang individu belajar terhadap segala sesuatu yang kemudian menjadi dewasa.

B.     Rumusan Masalah
1.   Bagaimana peranan keluarga terhadap perkembangan sosial?
2.   Proses apa sajakah dalam kehidupan seorang anak?
3.   Apa fungsi keluarga dalam membangun hubungan yang baik dalam keluarga itu sendiri?

C.    Tujuan Pembahasan
Untuk mengetahui bagaimana peranan keluarga terhadap perkembangan sosial.




BA B II
PEMBAHASAN
 Peranan Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Segala-galanya yang telah diuraikan mengenai interaksi kelompok keluarga yang merupakan kelompok primer itu, termasuk pembentukan norma-norma sosial, internalisasi norma-norma, dan lain-lainnya.
Keluarga adalah kelompok primer, yaitu kelompok yang mempunyai interaksi sosial yang cukup intensif, cukup akrab, hubungan antara anggota satu dengan anggota yang lain cukup baik. Kelompok ini juga sering dikenal  face to face group, anggota kelompok satu sering bertemu dengan anggota kelompok yang lain, sehingga para anggota kelompok saling mengenal dengan baik. Kelompok ini juga berpengaruh dalam perkembangan dan kehidupan individu.
Pengalaman-pengalamannya dalam interaksi sosial dalam keluarganya turut menentukan pula cara-cara prilakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial diluar keluarganya. Jadi, selain dari peranan umum kelompok keluarga sebagai ke rangka sosial yang pertama, tempat manusia berkembang sebagai mahluk sosial, terdapat pula peranan peranan tertentu didalam keadaan-keadaan keluarga yang dapat mempengaruhi perkembangan individu sebagai mahlik sosial.
Perkembangan sosial manusia dimulai dari masa bayinya. Bayi adalah makhluk sosial sejak awal hidupnya. Pada usia satu bulan bayi bereaksi terhadap suara dan wajah seseorang. Antara dua dan tiga bulan bayi mengembangkan senyum sosial, yaitu mereka mulai tersenyum hampir pada setiap orang. Ini adalah perkembangan yang penting karena mengundang orang dewasa untuk berinteraksi dengan bayi.
Dalam masa perkembangan selanjutnya sejumlah hal yang terjadi dalam kehidupannya, diantanya adalah sebagai berikut:
Ada proses imitasi dalam kehidupan seorang anak
Salah satu fungsi dari hal meniru ini ialah untuk memajukan interaksi sosial. Anak-anak lebih mungkin meniru suatu tindakan yang telah disetujui, misalnya makan dengan sendok.

Punya kemampuan mempengaruhi orang lain
Anak usia dua tahun mulai mengarahkan perilaku orang lain. Tujuannya bukan untuk mendapatkan benda tertentu, tetapi untuk mempengaruhi orang dewasa. Anak tidak akan memberi perintah jika mereka tidak berharap orang tua mematuhi mereka. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang anak mempunyai kesadaran tentang kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain.
Punya empati
Yang dimaksudkan di sini ialah kemampuan untuk menghargai persepsi dan perasaan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan sikap anak jika mereka melihat orang lain terluka atau tertekan. Pengalaman-pengalamannya dalam interkasi sosial dalam keluarganya turut menetukan pula cara-cara tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluar-ganya, di dalam masyarakat pada umumnya. Apabila interaksi sosialnya di dalam kelompok-kelompok karena beberapa sebab tidak lancar atau tidak wajar, kemungkinan besar bahwa interkasi sosialnya dengan masyarakat pada umumnya juga berlangsung dengan tidak wajar.
Keadaan sosial ekonomi keluarga tentulah mempunyai peranannya terhadap perkembangan anak-anak apabila kita pikirkan bahwa dengan adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak di dalam keluarganya itu lebih luas, ia mendapat kesempaan yang lebih luas untuk memperkembangkan bermacam-macam kecakapan.
Walaupun status sosial ekonomi orang tua memuaskan, tetapi apabila mereka itu tidak memperhatikan didikan anaknya atau senantiasa bercekcok, hal itu juga tidak menguntungkan perkembangan sosial anak-anaknya. Pada akhirnya, perkembangan sosial anak itu turut ditentukan pula oleh sikap-sikap anak sendiri terhadap keadaan keluarganya.
Keutuhan Keluarga
Salah satu faktor utama lain yang mempengaruhi perkembangan sosial anak-anak kepada masyarakat ialah faktor keutuhan keluarga. Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga ialah, pertama-tama keutuhan dalam struktur keluarga, yaitu bahwa didalam keluarga itu adanya ibu dan anak-anaknya. Apabila tidak ada ayahnya atau ibunya atau keduanya, maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. Juga apabila ayah atau ibunya jarang pulang ke rumah dan berbulan-bulan meninggalkan anaknya karena tugas atau hal lainnya dan hal ini terjadi secara berulang-ulang, maka struktur keluarga itupun sebenarnya tidak utuh lagi. Pada akhirnya, apabila orang tuanya hidup bercerai, juga keluarga itu tidak utuh lagi.
Sikap dan Kebiasaan Orang Tua
Selain status sosial ekonomi dan keutuhan keluarga dan interkasinya, cara-cara dan sikap-sikap dalam pergaulannya memegang pernan yang cukup penting di dalamnya. Hal ini mudah diterima apabila kita ingat bahwa keluarga itu sudah merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan, struktur, norma-norma, dinamika kelompok, termasuk cara-cara kepemimpinannya yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tesebut. Seperti hasil eksperimen yang telah dilakukan oleh Lewin, Lippit dan white mengenai cara-cara kepemimpinan dalam kelompok yaitu cara demokratis, laisses-fair, dan otoriter yang masing-masing mempunyai pengaruh besar terhdap suasana kerja kelompok dan tingkah laku anggotanya[1].
Satus Anak
Yang dimaksud dengan status anak dalam hal ini adalah status anak sebagai anak tunggal, status anak sulung, atau anak bungsu di antara kakak-kakaknya. Mengenai peranan status anak tunggal dalam keluarga telah diadakan penelitian oleh Herman, Leipzig, 1939 (12), yang menyelidiki 100 orang anak tunggal dibandingkan dengan 100 orang anak yang berkakak-adik, yaitu dengan cara angket dan analisis dari laporan kepribadiannya[2].
Menurut penelitian tersebut, yang pertama-tama dirugikan pada perkembangan anak tunggal itu ialah hal-hal mengenai “perasaan aku” di dalam dirinya. Ia memperoleh hasil, bahwa anak-anak tunggal dibandingkan dengan anak-anak yang bersaudara biasanya egoistis sekali, mencari penghargaan dirinya dengan berlebihan, dan sebagainya, juga anak tunggal memiliki keinginan untuk berkuasa yang berlebihan. Disamping itu, mereka mudah sekali dihinggapi perasaan rendah diri.
Seorang peneliti lainnya, Cattell (2), New York, 1950, berpendapat bahwa orang-orang  yang berkembang sebagai anak tunggal kerap kali memperlihatkan sifat-sifat infantilisme (kekanak-kanakan) yang menyatakan dirinya dalam cetusan-cetusan amarah yang bukan-bukan, tetapi paa pihak lain anak tunggal itu lebih mudah mengorientasi dirinya kepada orang-orang dewasa, dan kepada cita-cita serta sikap pandangan orang dewasa.
Peranan Lingkungan Kerja  
Pengaruh positif dari lingkungan kerja di dalam suatu perusahaan besar yang modern pernah dirumuskan sebagai berikut: “Dengan adanya cara kerja yang tersusun, kebersihan dan ketelitian yang harus dipelihara di dalam perusahaan besar, maka orangnya pun akan memperoleh latihan di dalamnya. Di samping itu, kecermatan, kecepatan, ketepatan, dan keteraturan yang diperlukan dalam bermacam-macam pekerjaan dalam suatu perusahaan modern itu mempunyai pengaruh “mendisiplinkan” manusia dan membentuk manusia yang cakap.
Sebaliknya, sebagai pengaruh negatif dari hidup dan cara kerja suatu kota industribesar modern dapat dirumuskan, bahwa interaksi sosial antar manusia di sana sudah tidak bersifat kekeluargaan lagi, tetapi bercorak rasional dan terlampau individualistis.
Mengenai pengaruh lingkungan pekerjaan yang bersifat pertanian di desa ada pendapat, bahwa lingkungan pekerjaan tersebut memudahkan terbentuknya kepribadian yang harmonis, realistis, tidak tergesa-gesa, yang bersifat kekeluargaan.

Peranan Media Masa
Yang menjadi perhatian para peneliti mengenai pengaruh media masa ini terhadap perkembangan orang ialah, apakah dan bagaimanakah pengaruh yang negatif dari frekuensi menonton bioskop, melihat televisi, dan dari membaca perpustakaan komik.
Seorang peneliti, Flik, 1954 (5), mendapatkan bahwa pada sejumlah anak-anak yang menjadi kriminal terdapat frekuensi yang lebih tinggi, yaitu rata-rata dua kali seminggu mereka menonton bioskop.
Tetapi perbedaan antara frekuensi menonton ini sendiri tidak perlu dijadikan suatu sebab, bahwa yang sering menonton itu akan memperoleh pengaruh yang jelek, sedangkan yang jarang menonton tidak akan memperoleh pengaruh yang buruk. Hal ini telah diselidiki oleh Shuttleworth dan May (23), New York, 1933[3]. Mereka membandingkan sikap-sikap dan tingkah laku anak sekolah yang menonton dua kali atau lebih dalam seminggu dengan sikap dan tingkah laku anak sekolah yang hanya sekali sebulan menonton bioskop atau kurang. Mereka tidak memperoleh perbedaan-perbedaan yang berarti (signifikan) antara tingkah laku dan sikap kedua golongan anak-anak tersebut. Dalam hal ini juga ditegaskan dalam penelitian sebuah Lembaga Penyelidikan Pendidikan IKIP Bandung.
Lain halnya dengan beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh sering melihat televisi oleh anak-anak.
Every, 1952 (4), mendapatkan bahwa 33,3% dari anak-anak yang sering menonton televisi oleh gurunya dinilai sebagai anak-anak yang tidak tenang (gelisah), sedangkan Leis (11) memperoleh hasil, bahwa anak-anak yang menonton televisi lebih dari 11-15 jam seminggu mengalami pengurangan prestasi mereka di sekolah[4].
Pengaruh dari membaca buku-buku komik diteliti oleh Doetsch, 1959 (3). Ia menyelidiki dua golongan itu tidak ada bedanya yang berarti. Hanyalah pemudi pembaca komik itu nyata lebih lalai dalam cara kerjanya, sedangkan pemudi-pemudi ang tidak membaca komik lebih teliti dan sungguh-sungguh. 

 Masalah Tingkah Laku Kriminal
Dengan menggunakan definisi Prof. Noach (20), seorang ahli kriminologi yang membedakan-bedakan pengertian kriminologi alam arti yang luas dan kriminologi dalam arti yang terbatas, maksudnya ialah memperbincangkan salah satu pokok kriminologi dalam arti terbatas itu, yang meliputi gejala-gejala kriminal, sebab-sebab dan akibat-akibat dari tingkah laku kejahatan. Menurut beliau, kriminalitas manusia normal adalah akibat, baik dari faktor keturunan maupun faktor lingkungan, di mana terkadang faktor keturunan maupun terkadang faktor lingkungan memegang peranan utama, dan di mana kedua faktor itu dapat juga saling mempengaruhi.
Seorang manusia normal bukan sejak lahirnya ditentukan untuk menjadi kriminal oleh faktor pembawaannya yang dalam saling pengaruh dengan lingkungannya menjelmakan tingkah laku kriminal, melainkan faktor-faktor yang terlibat dalam interaksi dengan lingkungan sosial itulah yang memberi pengaruhnya bahwa ia mudah menjadi orang kriminal. Pembawaannya akan menghindarkan bahwa ia betul-betul menjadi kriminal dalam pengaruh-pengaruh lingkungan yang memudahkannya itu.

Keluarga merupakan bagian dari sebuah masyarakat. Unsur-unsur yang ada dalam sebuah keluarga baik budaya, mazhab, ekonomi bahkan jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi perlakuan dan pemikiran anak khususnya ayah dan ibu. Pengaruh keluarga dalam pendidikan anak sangat besar dalam berbagai macam sisi. Keluargalah yang menyiapkan potensi pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak. Lebih jelasnya, kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan tingkah laku kedua orang tua serta lingkungannya. Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Islam menawarkan metode-metode yang banyak di bawah rubrik aqidah atau keyakinan, norma atau akhlak serta fikih sebagai dasar dan prinsip serta cara untuk mendidik anak. Dan awal mula pelaksanaannya bisa dilakukan dalam keluarga. Sekaitan dengan pendidikan, Islam menyuguhkan aturan-aturan di antaranya pada masa pra kelahiran yang mencakup cara memilih pasangan hidup dan adab berhubungan seks sampai masa pasca kelahiran yang mencakup pembacaan azan dan iqamat pada telinga bayi yang baru lahir, tahnik (meletakkan buah kurma pada langit-langit bayi, mendoakan bayi, memberikan nama yang bagus buat bayi, aqiqah (menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin), khitan dan mencukur rambut bayi dan memberikan sedekah seharga emas atau perak yang ditimbang dengan berat rambut. Pelaksanaan amalan-amalan ini sangat berpengaruh pada jiwa anak.

Perilaku-perilaku anak akan menjadikan penyempurna mata rantai interaksi anggota keluarga dan pada saat yang sama interaksi ini akan membentuk kepribadiannya secara bertahap dan memberikan arah serta menguatkan perilaku anak pada kondisi-kondisi yang sama dalam kehidupan.
Ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak. Karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibulah yang harus melaksanakan tugasnya di hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh.

Faktor-faktor (genetik dan lingkungan) secara terpisah atau dengan sendirinya tidak bisa menentukan pendidikan tanpa adanya yang lainnya, akan tetapi masing-masing saling memiliki andil dalam menentukan pendidikan dan kepribadian seseorang sehingga jika salah satunya tidak banyak dipergunakan maka yang lainnya harus dipertekankan lebih keras. Konteks kepribadian yang sudah didefinisikan pada pembahasan di atas tidak ada kaitannya dengan kepribadian baik atau buruk, akan tetapi dalam tulisan ini penulis berusaha mengkaji kepribadian yang baik dan positif dalam bingkai peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak. Kedua orang tua memiliki tugas di hadapan anaknya di mana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Anak pada awal masa kehidupannya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya. Dengan dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka maka orang tua akan menghasilkan anak yang riang dan gembira. Untuk mewujudkan kepribadian pada anak, konsekuensinya kedua orang tua harus memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, begitu juga kedua orang tua harus memiliki pengetahuan berkaitan dengan masalah psikologi dan tahapan perubahan dan pertumbuhan manusia.

Fungsi Keluarga
Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self actualization). Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga.Secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai[5]:
(1) pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya,
(2) sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis,
(3) sumber kasih sayang dan penerimaan,
(4) model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik,
(5) pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat,
(6) pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan,
(7) pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri,
(8) stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat,
(9) pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan
(10) sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.
Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuh kembangkan anaka yang dicintainya. Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gap communication dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (mental illness) bagi anak.
Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah “perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluaraga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai yang rusak. Sejalan dengan modernitas, sekolah memang berperan sebagai in loco parentis atau mengambil alih peran orang tua. Tetapi institusi sekolah tidak akan mampu mengambil alih seluruh peran orang tua dalam pendidikan anak.
Pendidikan dalam lingkungan keluarga sebaiknya diberikan sedini mungkin St. Franciscus Xaverius mengatakan: “Give me the children until are seven and anyone may have them afterward”. Sedangkan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad (SAW), menganjurkan: Ajaklah anak pada usia sejak lahir sampai tujuh tahun bermain, ajarkan anak peraturanatau adab ketika meraka berusia tujuh sampai empat belas tahun, pada usia empat belas sampai dua puluh satu tahun, jadikanlah anak sebagai mitra orang tuanya.
Keluarga sebagai lingkungan yang paling dekat dengan anak tentu memainkan peran besar dalam kehidupan anak. Dalam penelitian terbaru, lingkungan keluarga seperti hubungan antara ibu dan anak menjadi bagian yang menentukan kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Kemampuan untuk meregulasi emosi ini di masa perkembangan anak yang selanjutnya akan mempengaruhi kemampuan anak mengontrol kecemasan diri dan kemampuan hubungan sosial anak2.
Selain itu, keharmonisan di dalam lingkungan keluarga terutama di dalam rumah (sebagai tempat interaksi sehari hari anak berlangsung) menjadi faktor utama dalam perkembangan emosi anak. Anak yang sering mendengar orang tuanya bertengkar akan sering mengalami kesulitan dalam interaksi bermainnya sehari-hari1. Sebaliknya, anak yang berada di lingkungan orang tua yang harmonis dan suportif cenderung mengabaikan hal hal negatif di sekitarnya dan lebih mudah bereaksi dengan hal yang lebih positif.
Yang disebut di atas hanyalah sebagian kecil contoh pengaruh yang diberikan lingkungan keluarga terhadap perkembangan emosi anak. Contoh lain, orang tua yang sering membantu anaknya yang masih berusia dini untuk lebih mengenal emosinya, akan membuat anak lebih mudah mengekspresikan emosi dengan cara yang benar3. Misalnya, ketika orang tua mendampingi anak bermain, orang tua mendapati mainan anak direbut oleh teman bermainnya. Anak lalu menangis. Sikap orang tua yang mendampingi anak, lalu berusaha menghentikan tangis anak. Orang tua yang cukup bijak, tidak hanya akan memarahi anak lain untuk mengembalikan mainan namun juga  memberi pengertian kepada anak. Beri pengertian bahwa ketika mainan kita diambil memang sudah sepantasnya kita merasa sedih atau marah. Perasaan ini bisa diungkapkan dengan menangis atau melaporkan dengan orang dewasa yang mengawasi mereka bermain, bukan dengan berlaku kasar pada orang yang mengambil mainan itu. Dengan demikian, selain anak akan lebih mengenal emosi yang ia rasakan, anak juga akan mengetahui apa yang harus ia lakukan ketika ia mengalami emosi itu.
Perkembangan berkenaan dengan keseluruhan kepribadian individu, karena kepribadian individu membentuk satu kesatuan yang terintegrasi. Kesatupaduan kepribadian ini sebenarnya sukar dipisah-pisahkan, tetapi untuk sekedar membantu mempermudah mempelajari dan memahami, pembahasan aspek demi aspek biasa dilakukan.
Keluarga adalah suatu sistem sosial berskala kecil yang dibentuk oleh individu-individu yang saling berhubungan secara timbal balik dan di ikat oleh afeksi, kesetiaan serta membentuk suatu rumah tangga yang di pertahankan dalam jangka waktu yang lama.
Dengan kasih sayang dan loyalitas sebagai andalan, anggota keluarga diharapkan saling terikat dan saling berinteraksi sedemikian rupa sehingga dapat membantu perkembangan fisik maupun perkembangan kepribadian para anggotanya.
Suatu keluarga adalah bagian dari jaringan sosial yang lebih luas dan di pengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari lingkungan masyarakat. contohnya, hubungan dan perilaku antar anggota keluarga untuk sebagian diatur oleh berbagai norma dan kebiasaan yang ada di masyarakat, dipengaruhi oleh kondisi keuangan keluarga dan dipengaruhi oleh angka perceraian, tempat tinggal dan lain-lain.
Secara sederhana kita dapat membedakan bebebrapa aspek utama kepribadian, yaitu aspek : fisik dan motorik, intelektual, sosial, bahasa, emosi, moral dan keagamaan dimana satu sama lain memiliki keterkaitan yang sangat erat yang menunjukkan keterpaduan kepribadian yang sangat erat. Aspek bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi, meraba dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sanagat sederhana menuju ke bahasa yang sangat kompleks. Perkembangan bahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal lain, “meniru” dan “mengulang” hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal.
Aspek fisiologis emosional memiliki aspek-aspek fisiologis yang mempersiapkan individu untuk menyelesaikan hal yang bersifat darurat. Seseorang dalam merespon sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan-pertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat tertentu di dalam kehidupannya, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya.
Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self-actualization).
Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga. Secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya, sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis, sumber kasih sayang dan penerimaan, model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang bak, pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat, pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan, pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri, stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat, pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.
Ketika anak masuk ke sekolah mengikuti pendidikan formal, dasar-dasar karakter anak ini sudah terbentuk. Anak yang sudah memiliki watak yang baik biasanya memiliki achievement motivation yang lebih tinggi karena perpaduan antara intelligence quotient, emotional quotient dan spiritual quotient sudah mulai terformat dengan baik. Disamping itu, hal tersebut bisa pula mengurangi beban sekolah dengan pemahaman bahwa sekolah bisa lebih berfokus pada aspek bagaimana memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengembangkan potensi konigtif, afektif dan motorik.
Pada perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada perkembangan awal anak, mereka telah menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Kepribadian orang yang terdekat akan mempengaruhi perkembangan baik sosial maupun emosional. Kerjasama dan hubungan dengan teman berkembang sesuai dengan bagaimana pandangan anak terhadap lingkungan sekitarnya.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat di mana anak berada. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
BAB III
PENUTUP
D. Kesimpulan
Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan dapat terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya dan melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dan pembentukan karakter atau kepribadian anak yang bermula dari lingkungan pertama dan lingkungan terkecil yaitu lingkungan keluarga. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah penting. Orang tua adalah contoh atau model bagi anak, orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak ini dapat di lihat dari bagaimana orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya, orang tua juga merupakan mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan dan memberikan kasih sayang secara mendalam, baik positif atau negatif.


DAFTAR PUSTAKA
·         Drs. Abu Ahmadi. Psikologi Sosial. (Jakarta: Rineka Cipta, 1999)
·         Syamsu Yusuf, Perkembangan Anak dan Remaja, PT. Rineka Cipta, Bandung 2006


[1] Drs. Abu Ahmadi. Psikologi Sosial. (Jakarta: Rineka Cipta, 1999)
[2] ibid

[3] Syamsu Yusuf, Perkembangan Anak dan Remaja, PT. Rineka Cipta, Bandung 2006
[4] ibid
[5] ibid