Sabtu, 02 September 2017

SOSIOLOGI DAKWAH: Dakwah Pada Masyarakat Global


DAKWAH PADA MASYARAKAT GLOBAL
Tugas Ujian Tengah Semester
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Sosiologi Dakwah
DOSEN PENGAMPU: BAITSATUL HASANAH, S. Kom. I


Disusun oleh:
Irfan Maulana Yusuf
Rojail Khoirot
Irfan Maulana Akbar
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
STID AL-BIRUNI BABAKAN CIWARINGIN CIREBON
2016/2017


KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang dengan Rahmat-Nya memberikan nikmat kepada kita semua sebagai mahkluk-Nya, yang berupa nikmat Iman dan Islam serta nikmat waktu untuk berfkir, untuk menggali ilmu-ilmu Allah yang begitu luas.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi akhir zaman yakni Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya sahabatnya dan kita selaku umatnya.
Alhamdulillah pemakalah bisa menyelesaikan makalah yang sederhana ini, yang tidak luput dari kekurangan. Ucapan terima kasih pemakalah sampaikan kepada Baitsatul Hasanah S. Kom. I selaku dosen pada mata kuliah Sosiologi Dakwah yang telah memberikan kesempatan untuk menggaliilmu ini lebih dalam lagi.
Selebihnya kami mohon maaf, apabila tugas Uts yang di jadikan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan-kekurangan baik dalam bentuk tulisan ataupun yang lainnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته



Ciawlor, 5 Juni 2017

Penyusun


DAFTAR ISI
COVER............................................................................................................................. I
KATA PENGANTAR.................................................................................................... II
DAFTAR ISI................................................................................................................... III
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... IV
A.    Latar Belakang...................................................................................................... IV
B.     Rumusan Masalah................................................................................................. IV
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................. 1
1.      Dakwah Pada Masyarakat Global.......................................................................... 1

2.      Tantangan Dakwah Pada Masyarakat Global........................................................ 2
·         Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi................................................... 4
·         Imperialisme Budaya Asing............................................................................ 4
·         Kehidupan Yang Permisif............................................................................... 4
BAB III PENUTUP......................................................................................................... 7
C.     Kesimpulan............................................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 8





BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Memasuki abad 21 globalisasi seakan tidak bisa dibendung lajunya ketika memasuki setiap sudut negara dan menjadi sebuah keniscayaan. Era ini menghendaki setiap negara beserta individunya harus mampu bersaing satu sama lain baik antar negara maupun antar individu. Persaingan yang menjadi esensi dari globalisasi sering memiliki pengaruh dan dampak yang negatif jika dicermati dengan seksama. Pengaruh yang ada dari globalisasi pada aspek kehidupan meskipun awal tujuannya diarahkan pada bidang ekonomi dan perdagangan serta memberikan dampak multidimensi.
Kerawanan moral dan etika itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan internet, dan sebagainya. Bahaya yang paling besar yang dihadapi oleh umat manuysia zaman sekarang ini  bukanlah ledakan bom atom, tetapi perubahan fitrah itu sendiri. Unsur kemanusiaan dalam dirinya sedang mengalami kehancuran sedemikian cepat, inilah mesin-mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah.
Dampak globalisasi dalam dunia dakwah sangat dirasakan terpaannya. Dalam makalah ini penulis akan membahas Dakwah Pada Masyarakat Global. Makalah ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana dahsyatnya arus globalisasi dalam menggerus moral masyarakat. Begitu pula tantangan apa saja yang harus dihadapi ketika berdakwah dalam kungkungan globalisasi. Semoga tulisan yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.
B. Rumusan Masalah
1.    Bagaimana cara berdakwah pada masyarakat global?
2.    Apa saja tantangan berdakwah pada masyarakat global?





BAB II
PEMBAHASAN
1.    Dakwah Pada Masyarakat Global
Era globalisasi adalah merupakan hal yang netral. Artinya perkembangan tersebut dapat dilakukan kejalan yang baik tidak terkecuali dalam pengembangan dakwah. Namun dapat juga berdampak negatif jika perkembangan tersebut tidak disikapi dengan sebaik mungkin. Menyendiri atau lari dari globalisasi bukanlah solusi yang terbaik, tapi bagaimana memanfaatkan berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh era globalisasi ini ke jalan yang baik sesuai dengan tuntunan dan ajaran islam. Melihat kenyataan hidup di era globalisasi sangat penuh tantangan karena persoalannya tidak sederhana bahkan semakin kompleks. Kenyataan hidup tersebut sangat mendambakan “juru selamat” yang dapat merubah mereka menuju kehidupan yang penuh kedamaian, ketentraman lahir dan batin. Masyarakat perlu dibentengi dengan nilai-nili islam, sehingga nilai tersebut dapat melembaga dalam dirinya, dan tidak mudah goyah dengan berbagai fenomena kemodernan yang sangat menantang ini. Setiap muslim berkewajiban untuk menyampaikan pesan dakwah kapanpun dan dimanapun sebagaimana Hadits Nabi, ”sampaikanlah olehmu  dariku, walaupun hanya satu ayat”. Esensi hadits tersebut adalah ajakan kepada setiap Muslim agar senantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah melalui berbagai media[1]. Aktualisasi peran dakwah setiap muslim ini menjadi sangat terbuka dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, yaitu dengan memanfaatkan multimedia sebagai wahana Dakwah. Globalisasi sendiri sebenarnya sejalan dengan dengan ajaran agama Islam, ajaran atau agama yang diturunkan sebagai rahmat alam semesta. Jika globalisasi digunakan untuk menduniakan nilai-nilai moral islami, baik yang bersifat personal (personal morality) maupun yang public (public morality), maka kehidupan umat manusia di dunia ini dapat berjalan dengan tertib, aman, damai dan sejahtera[2].
Setiap manusia memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dihadapan Allah swt. Namun disamping itu sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa era globalisasi telah menghadirkan dua hal yaitu antara harapan dan tantangan. Yakni harapan supaya membawa umat manusia ke arah yang lebih baik juga tantangan bagaimana manusia mewujudkan itu semua. Dalam kepentingan dakwah Islamiyah, para da’i hendaknya menguatkan dakwah Islam baik dari segi materi, pesan yang disampaikan maupun metode yang digunakan. Dakwah Islam tidak boleh hanya menyentuh kulit-kulit ajaran semata, tetapi juga masuk ke inti dan esensi ajarannya. Karena ajaran Islam bersifat komprehensif maka dakwah Islam pun harus bersifat komprehensif. Pemahaman dan penerapan agama secara parsial meyebabkan kekuatan agama ini tidak kelihatan bahkan tidak efektif. Untuk itu, metode dakwah harus diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dakwah tidak boleh terbatas hanya menggunakan media tradisional (mimbar/podium) saja tapi juga dengan menggunakan multimedia yang ada.
Dalam rangka keberhasilan dakwah di era global, maka diperlukan da’i yang memiliki profil berikut ini, yaitu: memiliki komitmen tauhid, istiqamah dan jujur, memiliki visi yang jelas, memiliki wawasan keislaman, memiliki kemampuan memadukan antara dakwah bi al-lisan dengan dakwah bi al-hal, sesuai kata dengan perbuatan, berdiri di atas semua paham dan aliran, berpikir strategis, memiliki kemampuan analisis interdisipliner, sanggup berbicara sesuai dengan kemampuan masyarakat.[3]

2.    Tantangan Dakwah Pada Masyarakat Global.
Ketika masyarakat memasuki era globalisasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangan dakwah yang dihadapi semakin rumit. Tantangan tersebut tidak mengenal ruang, batas, waktu dan lapisan masyarakat, melainkan ke seluruh sektor kehidupan dan hajat hidup manusia, termasuk agama. Artinya, kehidupan kegamaan umat manusia tidak terkecuali Islam di mana pun ia berada akan menghadapi tantangan yang sama. Soejatmoko menandaskan bahwa agama pun kini sedang diuji dan ditantang oleh zaman.
Meskipun diakui bahwa di satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menciptakan fasilitas yang memberi peluang bagi pengembangan dakwah, namun antara tantangan dan peluang dakwah dewasa ini, agaknya tidak berimbang. Tantangan dakwah yang amat kompleks dewasa ini dapat dilihat dari minimal dari tiga perspektif, yaitu pertama, perspektif prilaku (behaviouristic perspective). Salah satu tujuan dakwah adalah terjadinya perubahan prilaku (behaviour change) pada masyarakat yang menjadi obyek dakwah kepada situasi yang lebih baik. Tampaknya, sikap dan prilaku (behaviour) masyarakat dewasa ini hampir dapat dipastikan lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya.
Kedua, tantangan dakwah dalam perspektif transmisi (transmissional perspective). Dakwah dapat diartikan sebagai proses penyampaian atau transmisi ajaran agama Islam dari da’i sebagai sumber kepada mad’u sebagai penerima. Ketika ajaran agama ditrasmisikan kepada masyarakat yang menjadi obyek, maka peranan media sangat menentukan. Ziauddin Sardar mengemukakan bahwa abad informasi ternyata telah menghasilkan sejumlah besar problem. Menurutnya, bagi dunia Islam, revolusi informasi menghadirkan tantangan-tantangan khusus yang harus diatasi, agar umat Islam harus bisa memanfaatkannya untuk mencapai tujuan dakwah.[4]
Ketiga, tantangan dakwah perspektif interaksi. Ketika dakwah dilihat sebagai bentuk komunikasi yang khas (komunikasi agama/islami) maka dengan sendirinya interaksi sosial akan terjadi, dan di dalamnya terbentuk norma-norma tertentu sesuai pesan-pesan dakwah. Yang menjadi tantangan dakwah dewasa ini, adalah bahwa pada saat yang sama masyarakat yang menjadi obyek dakwah pasti berinteraksi dengan pihak-pihak lain atau masyarakat sekitarnya yang belum tentu membawa pesan yang baik, bahkan mungkin sebaliknya.
Tantangan yang dakwah yang lain setidaknya terbagi menjadi tiga aspek. Aspek yang pertama yaitu aspek pribadi/internal, dimana aspek ini terletak pada diri seorang da’i yang masih merasa ragu akan keberlangsungan dakwahnya. Aspek kedua yaitu aspek eksternal yang meliputi harta, kekuasaan maupun jabatan yang bisa menjadi bom waktu dalam berdakwah. Aspek yang terakhir yaitu aspek pergerakan dimana biasanya dalam realitanya da’i masih belum bisa bersikap profesional dalam berdakwah. Terlebih lagi ketika berada dalam dunia globaliasi yang semua kebutuhan bisa tercukupi dengan sekejap. Entah kebutuhan itu bisa mendukung ataupun mengganjal semuanya bisa didapatkan tanpa bersusah payah.
Setiap usaha yang dilakukan dalam rangka untuk mencapai setiap tujuan pastilah mendapat hambatan dan tantangan dalam rangka untuk mewujudkannya, apalagi dalam melaksanakan sebuah missi suci berupa dakwah atau seruan demi tegaknya hukum Tuhan di muka bumi. Tantangan-tantangan dalam rangka suksesnya dakwah dalam konteks kekinian dan kedisinian kita saat ini antara lain adalah :

§  Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang begitu pesat saat ini telah melahirkan apa yang disebut dengan era globalisasi, yaitu sebuah era yang menjadikan bumi ini ibarat sebuah desa kecil dimana semua penduduk saling mengetahui apa yang terjadi di desanya. Saat ini semua ummat manusia pada satu belahan bumi mengetahui secara persis apa yang terjadi pada belahan bumi yang lainnya, sebagai dampak positif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kemajuan ulmu pengetahuan dan tekhnologi ini berupa tekhnologi informasi dan komunikasi dengan ciri komputerisasi, tekhnologi ruang angkasa dengan ciri penginderaan jarak jauh, tekhnologi hayati dengan ciri utamanya rekayasa genetic. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini selain membawa dampak positif bagi ummat manusia berupa kemudahan dalam melaksanakan semua urusan, ternyata juga menimbulkan permasalahan baru dalam kehidupan ummat manusia seperti rasa keterasingan, kecemasan, kegersangan hidup, terjadinya dekadensi moral, keretakan keluarga dan bahkan menambah jumlah penderitaan gangguan kejiwaan dan saraf. Dampak positif dan negative dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini tentu menjadi tantangan tersediri bagi pelaksanaan dakwah islamiyah.
§  Imperialisme Budaya Asing
Sebagai salah satu akibat langsung dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi melalui informasi dan komunikasi yang sangat dekat dengan setiap individu Muslim Indonesia adalah masuknya budaya asing langsung ke dalam rumah tangga Muslim melalui media Televisi dan lain sebagainya. Akibatnya anak-anak muda generasi masa depan bangsa larut dan mencontoh budaya-budaya asing tersebut, padahal budaya-budaya asing tersebut bertentangan dengan budaya bangsa dan agama[5].
§  Kehidupan Yang Permisif
Salah satu bentuk kecenderungan yang permisif ini adalah meningkatnya kasus-kasus pengguguran kandungan di kalangan perempuan dan mahasiswi, maraknya hamil di luar nikah, dan kumpul kebo. Kecenderungan seperti ini adalah merupakan dominasi pengaruh aspek fisik (materi) pada diri mereka yang mengalahkan fithrahnya. Padahal manusia, dalam fithrahnya, memiliki sekumpulan unsur surgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsure-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa.
Tidak sampai itu saja mengenai tantangan dakwah, setelah saya menelusuri informasi serta data-data serta pengetahuan yang saya dapatkan maka saya dapat menambah kembali tentang tantangan dakwah itu sendiri yakni sebagai berikut:
Pertama, tantangan sosio-ekonomi yang memberi isyarat bahwa penduduk dunia sekarang berjumlah kurang lebih 6 miliyar, dimana sekitar 30 % adalah muslim, sebahagian mereka berada di negara sedang berkembang atau dibelahan dunia bagian selatan.
Kedua, tantangan sain dan teknologi yang karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, maka corak kehidupan akan terkurung dalam sistem kompleks dari business science technology, dengan tujuan menghasilkan produk lebih banyak dengan pekerja lebih sedikit. Sedangkan unsur emosional dan spiritual tidak diperhitungkan.
Ketiga, Tantangan etis relegius. Sebagai korban kehidupan dalam modernisasi materialis, maka konsekwensinya adalah terjadinya suatu pergeseran kemauan masyarakat dari kemauan alami (natural will) menjadi kemauan rasional (rasional will) Dalam proses perubahan ini, kehidupan emosional manusia mengalami erosi dan berlanjut pada pemiskinan spiritual.
Ketentuan di atas apabila dakwah itu sendiri tidak diartikan dengan makna yang sempit, seperti yang telah diyakini oleh sebagian kalangan komunitas muslim. Dengan menggembar-gemborkan dakwah harus secara formalitas, seperti berpakaian gamis, kopiyah menempel di atas kepala, dengan jenggot menghelai panjang, tasbih menggayut ditangan kanan dan keliling berjalan kaki door to door.
Diantara metode tersebut seperti ngobrol-ngobrol di kafe, diskusi lintas agama, kunsultasi via alat komunikasi, mengadakan arisan bersama, rihlah ilmiyah dan lain sebagainya adalah termasuk metode berdakwah jika di dalamnya terdapatnya unsur ajakan kepada yang hak dan memperingatkan akan yang bathil. Begitu juga dunia kesenian, kebudayaan, pariwisata, entertainemen dengan segala pernak-perniknya, termasuk sarana untuk berdakwah, menurut pemahaman dakwah dalam makna yang luas sebagaimana dalam arti terminologi di atas.
Langakh pasti yang mesti kita lakukan adalah dengan memperhatikan materi dakwah yang akan kita sampaikan kepada para mad’u. diusahakan materi yang kita sampaikan itu tidak monoton atau bersifat monoton atau klise sehingga pada akhirnya menimbulkan kejenuhan bagi masyarakat atau mad’u itu sendiri. Seorang da’I mesti sedikitnya mengusasi hal-hal yang berkaitan dengan Iptek agar masyarakat mengetahui sedikitnya permasalahn-permasalahan secara global serta akan mengetahui keadaan dunia luar.
Tidak hanya samapi disana saja, seorang da’i  pun dalam melakukan pendekatan dan metode dakwahnya mesti mampu menguasai kondisi atau situasi para mad’u serta pendekatan atau metode yang digunakan dapat mencapai sasaran.




BAB III
PENUTUP
C. Kesimpulan
Pada akhirnya, globalisasi menjadi sebuah lokomotif yang senantiasa menuntun gerbong-gerbongnya, yaitu masyarakat secara luas. Hingga jauh setelah perkembangannya globalisasi menjadi sosok yang menyeramkan dan selalu mengincar masyarakat untuk terseret dalam pusaran arus yang cenderung negatif. Dari sinilah kemudian permasalahan dakwah menjadi semakin rumit dan kompleks. Sebagai umat Islam yang taat tentu tidak akan berpangku tangan ketika melihat keadaan etika dan moral masyarakat yang semakin lama tergerus oleh kehadiran globalisasi.
Setidaknya diperlukan metode ataupun strategi untuk berdakwah mengarungi globalisasi. Mulai dari kompetensi da’i selaku pembawa cahaya pencerahan hingga materi yang akan disampaikan di masyarakat. Tentu metode yang digunakan antara satu waktu dengan waktu yang lain akan mengalami perkembangan. Pun juga dengan keadaan demografis dari mad’u itu sendiri, diperlukan adanya kepekaan dari organisasi dakwah untuk terus menegakkan agama Allah, agama Islam.




DAFTAR PUSTAKA
v Drs. Muhtadi Asep Saepul, M. Ag, Metode Penelitian Dakwah, Pustaka Setia, Bandung, 2003
v Prof. Dr. Moh. Aziz Ali, M. Ag, ilmu Dakwah, Prenadamedia Group, Jakarta, 2016
v Prof. Dr. Muhtadi Asep Saeful, KOMUNIKASI DAKWAH, teori, pendekatan dan aplikasi, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2012
v Dr. Solahudin Dindin, MA. Kajian Dakwah Multi Perspektif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014
Sumber Lain:
v https://www.researchgate.net/publication/307849488_TANTANGAN_DAKWAH_DI_ERA_GLOBALISASI






[1] Drs. Muhtadi Asep Saepul, M. Ag, Metode Penelitian Dakwah, Pustaka Setia, Bandung, 2003
[2] Prof. Dr. Moh. Aziz Ali, M. Ag, ilmu Dakwah, Prenadamedia Group, Jakarta, 2016
[3] Prof. Dr. Muhtadi Asep Saeful, KOMUNIKASI DAKWAH, teori, pendekatan dan aplikasi, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2012
[4] Dr. Solahudin Dindin, MA. Kajian Dakwah Multi Perspektif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014
[5] https://www.researchgate.net/publication/307849488_TANTANGAN_DAKWAH_DI_ERA_GLOBALISASI 

Selasa, 23 Mei 2017

Gejala-Gejala IAD, IBD, ISD


GEJALA ALAM, SOSIAL DAN BUDAYA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU KEBERAGAMAAN
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MANDIRI
MATA KULIAH: IAD, ISD & IBD
DOSEN PENGAMPU: DIDING MUJAHIDIN, M. A.



Disusun oleh:
Irfan Maulana Yusuf
FAKULTAS DAKWAH
MA’HAD ‘ALI AL-IKHLASH
CIAWILOR CIAWIGEBANG KUNINGAN JAWA BARAT
2017




KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang dengan Rahmat-Nya memberikan nikmat kepada kita semua sebagai mahkluk-Nya, yang berupa nikmat Iman dan Islam serta nikmat waktu untuk berfkir, untuk menggali ilmu-ilmu Allah yang begitu luas.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi akhir zaman yakni Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya sahabatnya dan kita selaku umatnya.
Alhamdulillah pemakalah bisa menyelesaikan makalah yang sederhana ini, yang tidak luput dari kekurangan. Ucapan terima kasih pemakalah sampaikan kepada Diding Mujahidin, M. A. selaku dosen pada mata kuliah IAD, ISD & IBD yang telah memberikan kesempatan untuk menggaliilmu ini lebih dalam lagi.
Selebihnya pemakalah mohon maaf, apabila makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan-kekurangan baik dalam bentuk tulisan ataupun yang lainnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته



Ciawlor, 12 April 2017

Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dapat dikelompokan melalui beberapa cara. Secara umum ilmu pengetahuan dikelompokan menjadi tiga yaitu ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan budaya. Pengelompokan ilmu pengetahuan ini yang mendasari pengembangan Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Budaya Dasar sebagai mata kuliah dasar umum yang wajib diambil oleh mahasiswa di samping mata kuliah dasar umum lainnya seperti Agama, Pancasila, dan Kewiraan.
Berbicara tentang alam, sosial dan budaya tidak akan lepas dari suatu konflik, dan konflik alam yang terjadi secara langsung akan menimbulkan suatu masalah yang akan menyangkut terhadap budaya dan sosial di lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku keberagamaan. gejala alam, sosial dan budaya dapat berpengaruh dalam keberagamaan karena secara tidak langsung agama selalu mempengaruhi perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Alam dan agama sangat erat kaitannya. Perubahan alam dipengaruhi juga karena perubahan moral beragama atau tingkah laku keberagamaan seseorang. Alam ini merupakan nikmat besar yang diberikan Tuhan untuk manusia agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya. Dengan demikian, manusia sebagai khalifah dimuka bumi harus memiliki kemampuan dan kesempatan untuk memanfaatkan alam bagi kehidupannya. Dan sebagai khalifah di bumi manusia juga harus bijak dalam menghadapi gejala sosial dan budaya yang sejatinya gejala-gejala tersebut akan selalu mewarnai kehidupan manusia di bumi.

B.   Rumusan Masalah
1.   Apa pengertian keberagamaan?
2.   Bagaimana penjelasan gejala alam dalam perilaku keberagamaan?
3.   Bagaimana penjelasan gejala sosial dalam perilaku keberagamaan?
4.   Bagaimana penjelasan gejala budaya dalam perilaku keberagamaan?







BAB II
PEMBAHASAN
1.        Pengertian keberagamaan
Maksud dari keberagaman di sini adalah sifat-sifat yang terdapat dalam agama. Atau dengan kata lain keberagamaan adalah yang menyangkut segala aspek kehidupan yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan seseorang.
Keberagamaan dari kata dasar agama yang berarti segenap kepercayaan kepada Tuhan. Beragama berarti memeluk atau menjalankan agama. Sedangkan keberagamaan adalah adanya kesadaran diri individu dalam menjalankan suatu ajaran dari suatu agama yang dianut.  Keberagamaan juga diartikan sebagai kondisi pemeluk agama dalam mencapai dan mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan atau segenap kerukunan, kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan ajaran dan kewajiban melakukan sesuatu ibadah menurut agama.
Sehingga dapat disimpulkan tingkat keberagamaan yang dimaksud adalah seberapa jauh seseorang taat kepada ajaran agama dengan cara menghayati dan mengamalkan ajaran agama tersebut yang meliputi cara berfikir, bersikap, serta berperilaku baik dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial masyarakat yang dilandasi ajaran agama Islam yang diukur melalui dimensi keberagamaan yaitu keyakinan, praktek agama, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi atau pengamalan.
Adapun perwujudan keagamaan itu dapat dilihat melalui dua bentuk atau gejala yaitu gejala batin yang sifatnya abstrak (pengetahuan, pikiran dan perasaan keagamaan), dan gejala lahir yang sifatnya konkrit, semacam amaliah-amaliah peribadatan yang dilakukan secara individual dalam bentuk ritus atau upacara keagamaan dan dalam bentuk muamalah sosial kemasyarakatan.
2.     Gejala alam dalam perilaku keberagamaan
Ilmu alamiah merupakan Ilmu Pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam Alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah Dasar (Basic Natural Science) hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.
Gejala alam adalah sesuatu yang terjadi pada pemukaan bumi yang disebabkan oleh peristiwa alam. Dibawah ini terdapat beberapa contoh gejala alam yang terjadi dan pernah kita lihat.


·       Gerhana
Gerhana merupakan suatu istilah untuk menjelaskan suatu gejala gelap yang terjadi bila benda langit terhalang benda langit lain. Sehingga dapat juga dicermati dalam padanan kata bahasa Inggris “eclipse” berasal dari bahasa Yunani yakni eklipses yang berarti peninggalan atau pelalaian. Istilah ini dipergunakan secara umum, baik gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Gerhana Matahari terjadi pada waktu Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.
Banyak cerita khurafat dan tahayyul beredar di masyarakat seputar terjadinya gerhana. Namun syariat telah menyatakan dengan tegas nilai-nilai yang terkandung dibalik terjadinya peristiwa tersebut.
Atas terjadinya kejadian ini kita dapat mengambil hikmahnya. Pertama, gerhana menunjukkan salah satu keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha mengatur alam ini. Kedua, Untuk menimbulkan rasa gentar di hati setiap hamba atas kebesaran Allah Ta’ala dan azab-Nya bagi siapa yang tidak taat kepada-Nya.
·       Angin Topan
Angin topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan tinggi atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis di antara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa.  Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sangat rendah. Angin Topan menyebabkan rumah-rumah, tempat ibadah,  pohon-pohon, tiang listrik dan benda-benda lain porak poranda karena terkena angin tersebut.
Perilaku keberagamaan:
·      Membantu korban bencana dengan menyalurkan bantuan sembako.
·      Membangun tenda-tenda darurat untuk tempat tidur dan tempat ibadah.
3.    Gejala sosial dalam perilaku keberagamaan
Gejala sosial merupakan segala sesuatu yang di buat maupun dilkukan oleh manusia di dalam lingkungan kehidupannya. Terdapat bermacam-macam gejala sosial yang bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungannya.
Gejala-gejala sosial yang terjadi nantinya akan menimbulkan suatu permasalahan baru dalam lingkungan masarakat. Hal tersebut akan terus terjadi hingga di temukan sebuah upaya penyelesaian untuk masalah tersebut.
Contoh gejala sosial dalam perilaku keberagamaan:
·      Mencuri
mencuri adalah mengambil sesuatu barang secara sembunyi-sembunyi, baik yang melakukan seorang anak kecilatau orang dewasa, baik barang yang dicuri itu sedikit atau banyak, dan barang yang dicuri itu disimpan ditempat yang wajar untuk menyimpan atau tidak.
Hukum mencuri adalah haram. Pelaku pencurian wajib dikenakan had mencuri, yaitu potong tangan. Firman Allah SWT dalam Q.S. A l-Maidah: 38 “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuripotonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang merekakerjakan dan sebagaisiksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “
Perilaku keberagamaan :
Setelah melihat bahwa hukuman mencuri adalah dipotong tangan seharusnya pencuri itu semakin jera dan tidak berani melakukan hal tersebut lagi.
4.    Gejala budaya dalam perilaku keberagamaan
Gejala budaya adalah suatu hal yang membuat manusia mengikuti tradisi yang berlaku dari dulu dan sudah menjadi hal biasa di lingkungan masyarakat.
Pengaruh lingkungan budaya yang dalam ekspresi keberagamaan lebih banyak ditemukan dalam hal-hal praktis dan konkrit. Untuk budaya Indonesia khususnya budaya jawa, sarung merupakan contoh nyata yang dapat ditunjukkan dengan mudah. Pengaruh-pengaruh tertentu lingkungan hidup sekelompok manusia terhadap keagamaan. Masyarakat yang memiliki budaya berbeda-beda berdampak pada cara beragama yang berbeda pula.
Contoh gejala budaya dalam keberagamaan:
Dalam agama Islam, khitan merupakan salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kita kepada ajaran agama.
Perilaku keberagamaan:
·      Khitan itu selain diwajibkan juga memiliki beberapa manfaat diantaranya dapat mencegah infeksi dan mengurangi resiko tertular penyakit menular seperti HIV-AIDS.
·      Menurut penelitian pada orang yang tidak disunat lebih besar resikonya timbul infeksi yang berakibat pada terjangkitnya berbagai penyakit diantaranya yang paling menghawatirkan adalah Kanker Penis.

BAB III
PENUTUP

C.    KESIMPULAN
·         Gejala alam dalam perilaku keberagamaan adalah suatu tanda-tanda adanya perubahan alam yang menyebabkan adanya bencana yang dimana di balik dari bencana tersebut akan berpengaruh dalam perilaku keberagamaan yaitu timbulnya saling  tolong-menolong.
·         Gejala sosial dalam perilaku keberagamaan adalah gejala-gejala yang ada di masyarakat yang melahirkan sebuah konflik dan perubahan yang mengarah pada sesuatu yang positif maupun negatif yang dimana konflik tersebut bisa mempengaruhi perikaku keberagamaan.
·         Gejala budaya dalam perilaku keberagamaan adalah sesuatu yang ada dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan gambaran kalau budaya itu sudah ada sejak zaman dahulu.